Penyakit
23-02-2018

Meningitis Bakterialis

Meningitis Bakterialis adalah peradangan pada meningen (selaput otak) yang disebabkan oleh bakteri.

Meningitis paling sering menyerang anak-anak yang berusia 1 bulan - 2 tahun. Meningitis lebih jarang terjadi pada orang dewasa, kecuali mereka yang memiliki faktor risiko khusus. Wabah meningitis meningokokus bisa terjadi dalam suatu lingkungan, misalnya perkemahan militer, asrama mahasiswa atau sekumpulan orang yang berhubungan dekat.

Bakteri yang menjadi penyebab dari lebih 80% kasus meningitis adalah:

  • Neisseria meningitidis
  • Hemophilus influenzae
  • Streptococcus pneumoniae
    Ketiga jenis bakteri tersebut, dalam keadaan normal terdapat di lingkungan sekitar dan bahkan bisa hidup di dalam hidung dan sistem pernafasan manusia tanpa menyebabkan keluhan. Kadang ketiga organisme tersebut bisa menginfeksi otak tanpa alasan tertentu. Pada kasus lainnya, infeksi terjadi setelah cedera kepala atau akibat kelainan sistem kekebalan tubuh.
  • Risiko terjadinya meningitis bakterialis meningkat pada:
    - penyalahguna alkohol
    - telah menjalani operasi pengangkatan limpa
    - penderita infeksi telinga dan hidung menahun, pneumonia pneumokokus atau penyakit sel sabit

    Bakteri lain yang juga bisa menyebabkan meningitis adalah Escherichia coli (yang dalam keadaan normal ditemukan pada usus dan tinja) dan Klebsiella. Infeksi karena bakteri ini biasanya terjadi setelah suatu cedera kepala, pembedahan otak atau medula spinalis, infeksi darah atau infeksi yang didapat di rumah sakit; infeksi ini lebih sering terjadi pada orang-orang yang memiliki kelainan sistem kekebalan tubuh.

    Penderita gagal ginjal atau pengguna kortikosteroid jangka panjang memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena meningitis yang disebabkan oleh bakteri Listeria.

    Meningitis pada bayi baru lahir biasanya disebabkan oleh infeksi yang masuk ke aliran darah (sepsis). Infeksi ini biasanya terjadi akibat bakteri yang didapat dari jalan lahir, yaitu paling sering streptococcus grup B, Escherichia coli, dan Listeria monocytogenes.

    Gejala-gejala awal meningitis yang bisa terjadi adalah demam, sakit kepala, kaku kuduk, sakit tenggorokan dan muntah (seringkali terjadi setelah adanya gangguan saluran nafas). Kaku kuduk bukan hanya terasa sakit, tetapi penderita tidak dapat atau merasa nyeri ketika dagunya ditekuk/disentuhkan ke dadanya.

    Penderita dewasa menjadi sakit berat dalam waktu 24 jam, sedangkan anak-anak lebih cepat. Anak-anak yang lebih besar dan orang dewasa bisa menjadi irritable, linglung dan sangat mengantuk. Bisa terjadi penurunan kesadaran, koma dan akhirnya meninggal.

    Infeksi menyebabkan pembengkakan jaringan otak dan menghambat aliran darah, sehingga timbul gejala-gejala stroke (termasuk kelumpuhan). Beberapa penderita bisa mengalami kejang.

    Pada kasus yang jarang, bayi dengan meningitis mengalami terbentuknya kantong nanah (abses) pada otak. Dengan semakin bertambah besarnya abses, maka tekanan ke otak meningkat, sehingga kepala bayi bisa membesar, ubun-ubun menonjol, dan bayi menjadi muntah.

    Sindroma Waterhouse-Friderichsen merupakan infeksi Neisseria meningitidis yang berkembang dengan cepat, dengan gejala berupa diare hebat, muntah, kejang, perdarahan internal, tekanan darah rendah, syok, yang seringkali berakhir dengan kematian.

    Pada anak-anak yang berusia hingga 2 tahun, meningitis biasanya menyebabkan demam, gangguan makan, muntah, rewel, kejang dan menangis dengan nada tinggi (high pitch cry). Kulit diatas ubun-ubun menjadi tegang dan bisa menonjol. Aliran cairan di sekeliling otak bisa mengalami penyumbatan, menyebabkan pelebaran tengkorak (keadaan yang disebut hidrosefalus). Bayi yang berusia dibawah 1 tahun tidak mengalami kaku kuduk.

    Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Untuk menentukan penyebabnya, bisa dilakukan pemeriksaan  pungsi lumbal, dimana sebuah jarum kecil dimasukkan ke antara 2 tulang pada kolumna spinalis bagian bawah dan diambil contoh cairan serebrospinal. Cairan diperiksa dibawah mikroskop dan dibiakkan. Untuk membantu menentukan jenis infeksi, bisa juga dilakukan pemeriksaan kadar gula, protein serta jumlah dan jenis sel darah putih di dalam cairan serebrospinal.

    Pemeriksaan ultrasonografi dan CT (Computed Tomography) scan bisa dilakukan untuk menentukan apakah terdapat abses pada otak.

    Untuk memperkuat diagnosis, juga dilakukan pembiakan contoh darah, air kemih, lendir hidung dan tenggorokan serta nanah dari infeksi kulit.

    KOMPLIKASI

    Meningitis bakterialis (terutama yang disebabkan oleh Neisseria meningitidis) bisa menyebabkan tekanan darah menjadi sangat rendah, sehingga penderita memerlukan cairan tambahan dan obat-obatan untuk mengatasi keadaan tersebut.

    Penanganan yang diberikan antara lain berupa :

    • Pengobatan untuk mengatasi infeksi dan menekan peradangan.
    • Pemberian cairan untuk menggantikan cairan yang hilang karena demam, berkeringat, muntah dan nafsu makan yang buruk.

    PROGNOSIS

    Jika segera diberikan pengobatan, maka jumlah penderita yang meninggal bisa kurang dari 10%. Tetapi jika diagnosis maupun pengobatannya tertunda, maka bisa terjadi kerusakan otak yang menetap atau kematian, terutama pada anak yang sangat kecil dan pada usia lanjut.

    Sebagian besar penderita bisa sembuh sempurna, tetapi beberapa penderita sering mengalami kejang. Gejala sisa lainnya adalah kelainan mental yang menetap serta kelumpuhan.

    Ada vaksin yang bisa membantu mencegah terjadinya meningitis yang disebabkan oleh Neisseria meningitidis. Vaksin ini terutama digunakan jika terjadi wabah, pada populasi yang terancam wabah, dan pada orang-orang yang mengalami paparan bakteri berulang.

    Anggota keluarga, petugas kesehatan dan orang lain yang berhubungan dengan penderita meningitis yang disebabkan oleh Neisseria meningitidis, juga perlu diberikan pengobatan.

    Anak-anak dan remaja harus mendapatkan imunisasi rutin dengan vaksin Hemophilus influenzae tipe B dan Streptococcus pneumonia untuk membantu mencegah terjadinya meningitis yang paling sering terjadi pada anak-anak.

    - W, Geoffrey A. Meningitis In Children. Merck Manual Home Health Handbook. 2006.