Penyakit
23-02-2018

Campak Jerman (Rubella) Kongenital

Rubella Kongenital adalah infeksi yang disebabkan oleh virus rubella (campak Jerman) yang terjadi ketika bayi masih berada di dalam kandungan dan bisa menyebabkan cacat bawaan.

Sebelum ditemukan vaksin rubella pada tahun 1969, wabah rubella terjadi setiap 6-9 tahun. Wabah terutama menyerang anak-anak yang berusia 5-9 tahun dan orang dewasa, tetapi ada juga kasus yang menyebabkan rubella kongenital. Saat ini, setelah ada vaksin rubella, kasus rubella kongenital telah menurun secara drastis dan jarang terjadi.

Penyebabnya adalah virus rubella, yang bisa ditemukan di tenggorokan, darah dan tinja penderita. Penularan virus terjadi melalui percikan ludah dan cairan hidung atau tenggorokan. Penularan juga bisa terjadi melalui darah ibu hamil kepada janin yang dikandungnya. Seorang penderita bisa menularkan virus ini 1 minggu sebelum timbulnya ruam kulit sampai 1 minggu setelah ruam kulit menghilang.

Pada anak-anak biasanya penyakit ini bersifat ringan, tetapi pada wanita hamil bisa menyebabkan rubella kongenital pada janin yang berada dalam kandungannya. Rubella kongenital terjadi akibat perusakan oleh virus pada saat janin sedang berkembang.

Ibu hamil yang tidak mendapatkan imunisasi rubella berisiko terkena infeksi rubella dan bisa menularkan kepada janin yang dikandungnya.

Rubela pada wanita hamil bisa tidak bergejala atau ditandai oleh adanya gejala-gejala infeksi saluran nafas bagian atas, demam ringan, konjungtivitis, limfadenopati, dan ruam makulopapular. Penyakit ini juga bisa diikuti oleh gejala-gejala pada sendi.

Infeksi rubella pada janin bisa tidak menimbulkan efek apa-apa, bisa juga menyebabkan kematian janin di dalam kandungan, atau kelainan multipel, yang disebut sebagai sindroma rubella kongenital. Kelainan yang paling sering terjadi adalah hambatan pertumbuhan, mikrosefalus, meningoensefalitis, katarak, retinopati, gangguan pendengaran, kelainan jantung (patent ductus arteriosus dan stenosis arteri pulmoner), pembesaran hati dan limpa (hepatosplenomegali, dan gangguan pada tulang.

Kelainan lain yang bisa terjadi adalah:

- trombositopenia dengan ruam kulit (purpura atau peteki)
- lesi kulit berwarna merah kebiruan
- anemia hemolitik  
- adenopati
- pneumonia interstisial 
- berat badan lahir yang rendah
- ubun-ubun menonjol
- lemas
- rewel
- tuli
- kejang
- ketegangan otot yang abnormal
- kornea keruh atau pupil putih (leukokoria)
- keterbelakangan motorik
- keterbelakangan mental
- kelainan pada garis telapak tangan (simian crease)
- Koarktasio aorta dan kelainan aorta lainnya
- Kelainan septum ventrikel (ventricular septal defect, VSD)
- Nekrosis otot jantung

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan adanya riwayat infeksi rubella pada ibu selama hamil (terutama pada trimester pertama).

Pemeriksaan yang bisa dilakukan:
- Pemeriksaan air kemih, lendir hidung-tenggorokan dan cairan serebrospinal (untuk menemukan virus)
- Skrining TORCH positif
- Kadar IgM (IgM khusus untuk rubella)

Tidak ada terapi spesifik untuk mengatasi infeksi pada ibu atau rubella kongenital. Wanita yang terpapar rubella pada kehamilan awal harus diinformasikan mengenai risiko yang mungkin terjadi pada janin yang dikandungnya.

Perawatan yang dilakukan tergantung kepada organ yang terkena:

  • Mengatasi gangguan pendengaran dengan memakai alat bantu dengar, melakukan terapi wicara dan memasukkan anak ke sekolah khusus
  • Mengatasi kelainan jantung dengan pembedahan
  • Mengatasi gangguan penglihatan, untuk mendapatkan penglihatan dengan ketajaman yang terbaik

Anak perlu mendapatkan penanganan khusus jika terjadi keterbelakangan mental yang sangat berat.

Vaksinasi rubella sebelum hamil perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya rubella. Semua wanita muda yang belum pernah menderita rubella harus divaksinasi dan tidak boleh hamil dalam waktu 28 hari sesudah divaksinasi. Vaksin tidak boleh diberikan kepada ibu hamil.

- C, Mary T. Congenital Rubella. Merck Manual Home Health Handbook. 2013.