Penyakit
23-02-2018

Pneumonia Eosinofilik

Pneumonia Eosinofilik, atau disebut juga Sindroma Infiltrasi Paru Oleh Eosinofilia, merupakan sekelompok penyakit paru-paru dimana eosinofil (salah satu jenis sel darah putih yang terlibat dalam terjadinya reaksi alergi) muncul dalam jumlah besar di paru-paru dan biasanya juga di dalam aliran darah.

Eosinofil berperan dalam respon kekebalan di paru-paru. Jumlah eosinofil akan meningkat saat terjadi peradangan dan timbulnya reaksi alergi, termasuk asma, yang seringkali menyertai pneumonia eosinofilik jenis tertentu.

Pneumonia eosinofilik berbeda dengan pneumonia biasanya, dimana pada pneumonia eosinofilik tidak ditemukan adanya tanda-tanda infeksi bakteri, virus, atau jamur pada alveolus paru. Namun, alveolus dan seringkali saluran nafas, bahkan pembuluh darah, dipenuhi oleh eosinofil.

Penyebab pasti akumulasi eosinofil pada paru-paru belum diketahui dengan jelas, dan seringkali tidak memungkinkan untuk menentukan zat penyebab terjadinya reaksi alergi. Namun, ada beberapa penyebab pneumonia eosinofilik yang diketahui, antara lain :

Gejala-gejala pneumonia eosinofilik bisa ringan atau bisa juga sampai mengancam nyawa.

- Pneumonia eosinofilik simplek (Sindroma Loffler) dan pneumonia sejenisnya (misalnya eosinofilia tropikal, akibat infestasi cacing filaria) bisa menyebabkan terjadinya demam ringan dan gejala-gejala saluran nafas yang ringan, misalnya batuk, mengi (wheeze), dan sesak nafas, tetapi biasanya membaik dengan cepat.

- Pneumonia eosinofilik akut bisa menyebabkan penurunan kadar oksigen di dalam darah yang berat, sehingga bisa menimbulkan terjadinya gagal nafas dalam waktu beberapa jam atau hari jika tidak diatasi.

- Pneumonia eosinofilik kronis. Gejala berkembang secara perlahan dalam waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan dan bisa memberat. Penderita bisa mengalami sesak nafas dan dapat berakibat fatal jika kondisi ini tidak diatasi.  

Bukti yang paling meyakinkan dalam mendiagnosa pneumonia eosinofilik adalah adanya gejala-gejala yang muncul dalam waktu relatif singkat setelah mengkonsumsi obat tertentu atau bepergian ke daerah yang memungkinkan terjadinya paparan dengan cacing.

Berbagai pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk membantu memastikan diagnosa :

  • Pemeriksaan darah, bisa ditemukan adanya eosinofil dalam jumlah besar. Namun, pada pneumonia eosinofilik kronis, jumlah eosinofil di dalam darah mungkin normal.
  • Foto rontgen dada, bisa didapatkan hasil yang abnormal, tetapi kelainan serupa juga bisa terjadi pada kondisi lainnya.
  • Pemeriksaan mikroskopik dahak, bisa tampak adanya kelompokan eosinofi.
  • Pemeriksaan lain, untuk melihat apakah terdapat infeksi jamur atau parasit, misalnya pemeriksaan mikroskopik tinja untuk melihat adanya cacing dan parasit lainnya.

Pneumonia eosinofilik bisa terjadi dalam bentuk yang ringan, dan penderitanya mungkin membaik tanpa terapi. Pada kasus yang akut, biasanya diperlukan pengobatan untuk meredakan reaksi peradangan dan mengatasi gejala-gejala yang ada. Obat-obat yang mungkin menyebabkan timbulnya penyakit biasanya akan dihentikan.

- N, Lee S. Eosinophilic Pneumonia. Merck Manual Home Health Handbook. 2006.