Penyakit
23-02-2018

Keracunan Makanan Akibat Clostridium perfringens

Keracunan makanan akibat Clostridium perfringens merupakan infeksi pada saluran cerna yang terjadi akibat memakan makanan yang terkontaminasi bakteri Clostridium perfringens. Saat bakteri sampai di usus halus, bakteri kemudian melepaskan toksin yang seringkali menyebabkan diare.

Penyebabnya adalah bakteri Clostridium perfringens, yaitu bakteri yang seringkali ditemukan pada usus halus manusia dan hewan, serta terdapat di tanah dan daerah-daerah yang terkontaminasi oleh kotoran manusia atau hewan.

Meskipun bakteri C. perfringens bisa terdapat pada usus halus manusia, tetapi penyakit terjadi akibat mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri C. perfringens dalam jumlah besar, dimana bakteri akan menghasilkan toksin di usus halus yang bisa menimbulkan penyakit.

C. perfringens biasanya terdapat pada daging mentah. Makanan yang seringkali menjadi sumber infeksi bakteri C. perfringens adalah daging sapi, daging unggas, saus, dan makanan setengah matang.

Sumber : www.cdc.gov

Keracunan makanan bisa terjadi akibat memakan makanan yang tidak dimasak dengan baik dan disimpan. Bakteri normalnya ditemukan pada makanan setelah dimasak. Bakteri akan tumbuh saat makanan didinginkan atau dihangatkan pada suhu sekitar 12-60ºC. Jika makanan disajikan tanpa dipanaskan kembali untuk membunuh bakteri, maka bakteri yang hidup akan termakan. Wabah keracunan makanan akibat Clostridium perfringens biasanya terjadi pada makanan yang disiapkan dalam jumlah besar dan dihangatkan untuk waktu lama sebelum disiapkan. Wabah seringkali terjadi pada institusi tertentu, seperti kantin sekolah atau penjara.

Sebagian bakteri hanya menyebabkan penyakit yang ringan sampai sedang dan bisa membaik dengan sendirinya tanpa terapi. Namun, ada juga bakteri yang bisa menyebabkan gastroenteritis berat, dimana terjadi kerusakan pada usus halus, dan kadang sampai menimbulkan kematian.

Gejala-gejala gastroenteritis mulai terjadi sekitar 6-24 jam setelah memakan makanan yang terkontaminasi. Gejala yang paling sering terjadi adalah diare cair dan kram perut. Gejala lain yang bisa ditemukan adalah : nyeri perut, distensi perut akibat adanya gas, diare berat, dehidrasi, dan penurunan tekanan darah yang hebat (syok).

Sumber : www.pediatrics.about.com

Diduga suatu keracunan makanan karena Clostridium perfringens, jika terjadi wabah lokal di suatu daerah. Diagnosa dipastikan dengan cara memeriksa makanan yang terkontaminasi atau tinja dari orang-orang yang terinfeksi.

Penanganan yang diberikan antara lain berupa pemberian cairan dan istirahat yang cukup. Pemberian antibiotik tidak dianjurkan untuk mengatasi penyakit ini. Segera pergi ke dokter jika mengalami gejala-gejala saluran cerna yang semakin memberat.

Tindakan pencegahan yang bisa dilakukan antara lain berupa :

  • Masak makanan, seperti daging sapi, daging unggas, atau makanan lain, dengan baik pada suhu yang dianjurkan. Jika makanan tidak habis dimakan, maka makanan perlu disimpan pada suhu yang lebih hangat (>60°C) atau pada suhu dingin (<5°C). Suhu ini akan mencegah tumbuhnya spora bakteri yang mungkin tetap bertahan saat makanan dimasak.
  • Makanan yang mengandung daging harus segera disajikan panas-panas, segera setelah dimasak. Makanan yang tersisa harus segera dimasukan ke lemari pendingin pada suhu <5°C. Makanan yang masih panas boleh langsung dimasukan ke dalam lemari pendingin.
  • Makanan harus dipanaskan kembali, setidaknya mencapai suhu 74°C sebelum disajikan.
  • Makanan yang sudah terlalu lama bisa berbahaya untuk dimakan, meskipun tampak masih baik.

Sumber : www.cdc.gov

- B, Thomas G. Clostridium Perfringens Food Poisoning. Merck Manual. 2012.

- Centers for Disease Control and Prevention. Clostridium perfringens. 2014.