Penyakit
23-02-2018

Lupus Eritematosus Sistemik

Lupus Eritematosus Sistemik (Systemic Lupus Erythematosus/SLE) merupakan suatu penyakit jaringan ikat dimana terjadi peradangan kronis yang bisa mengenai persendian, ginjal, kulit, selaput mukosa, dan bahkan dinding pembuluh darah.

Pada penyakit lupus, sistem pertahanan tubuh menyerang tubuhnya sendiri. Mekanisme dan penyebab terjadinya gangguan ini belum sepenuhnya dimengerti, tetapi diduga terdapat faktor lingkungan dan genetik yang berperan dalam terjadinya gangguan ini.

Faktor genetik meningkatkan kecenderungan untuk terjadinya penyakit autoimun pada seseorang, misalnya lupus. Selain itu, sistem kekebalan tubuh pada orang-orang dengan lupus mudah dipicu oleh faktor lingkungan, seperti :

  • Infeksi
  • Pemakaian obat tertentu, misalnya antibiotik golongan sulfa dan penisilin
  • Sinar ultraviolet
  • Stres yang berlebihan
  • Periode menstruasi atau kehamilan (hormon).

Gejala-gejala yang muncul sangat bervariasi antar penderita. Gejala bisa muncul secara tiba-tiba atau perlahan-lahan dalam waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun dengan adanya serangan (flare-ups) berupa demam, rasa tidak enak badan, atau gejala lain, dan diselingi oleh masa dimana tidak terdapat gejala atau gejala minimal.

Pada akhirnya, gejala-gejala bisa mengenai berbagai sistem organ, antara lain berupa :

  • Nyeri sendi
  • Peradangan mendadak di banyak sendi
  • Rasa ngilu yang luar biasa di bagian persendian
  • Penderita mengalami kelelahan yang ekstrim
  • Ruam kulit kemerahan dan berbentuk seperti kupu-kupu di hidung dan pipi (butterfly effects)
  • Benjolan atau bercak-bercak pada kulit
  • Ulkus pada membran mukosa, terutama di langit-langit mulut, pipi bagian dalam, gusi, dan hidung bagian dalam
  • Mengalami anemia yang amat parah
  • Rambut rontok sebagian atau merata (alopesia)
  • Sensitivitas terhadap sinar matahari maupun kilatan foto
  • Ruam kulit bisa bertambah hebat akibat terkena sinar matahari
  • Timbul permasalahan di sekitar hidung dan mulut

1)    2) 
1). Ulkus di langit-langit mulut; 2). Alopesia pada SLE
(Sumber : http://www.hss.edu)

  • Sesak nafas, akibat peradangan pada paru-paru (jarang terjadi)
  • Nyeri dada, akibat peradangan pada kantung yang melapisi jantung (perikarditis) atau peradangan dinding arteri koroner
  • Pembesaran kelenjar getah bening
  • Gangguan sistem saraf, misalnya gangguan ringan dalam berpikir, perubahan kepribadian, stroke, kejang, gangguan mental berat (psikosis), demensia
  • Penurunan jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.
  • Gejala-gejala pada saluran cerna, seperti mual, muntah, diare, dan nyeri perut.

Gambaran Butterfly Effect

Wanita hamil yang terkena lupus memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami keguguran dan bayi lahir mati. Serangan gejala umum terjadi saat kehamilan atau segera setelah melahirkan.

Sumber : www.lupussymptoms.in

Diagnosa didasarkan dari gejala-gejala yang ada dan hasil pemeriksaan fisik. Beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk membantu memastikan diagnosa :

  • Untuk menguji apakah seseorang menderita lupus, maka dilakukan sebuah pengujian dengan menggunakan tes darah bernama Anti Nuclear Antibody (ANA). Tes ini akan mengidentifikasi autoantibodi (antibodi perusak) yang memakan sel-sel berguna di dalam tubuh. Hasil positip tes ini belum bisa dikatakan seseorang menderita lupus. Dibutuhkan data-data lain seperti gejala-gejala, catatan fisik pasien, dan tes lengkap laboratorium hingga dipastikan si pasien apakah menderita lupus.

 

Sumber : www.medicinenet.com

  • Biopsi ginjal, untuk melihat apakah telah terjadi kerusakan pada ginjal.
  • Rontgen dada menunjukkan pleuritis atau perikarditis

Terapi yang diberikan tergantung dari organ-organ yang terkena dan seberapa aktif peradangan yang terjadi. Tujuan terapi adalah untuk mengurangi peradangan, sehingga bisa mencegah terjadinya kerusakan.

Obat-obatan yang diberikan bagi penderita lupus:

1. Steroid
2. Immunosuppressant
3. Antimalarial (Plaquenil/Hydroxychloroquine)
4. Non-Steroidal anti-inflammatories

Selain itu, penderita juga perlu dipantau secara ketat untuk kemungkinan terjadinya penyakit arteri koroner. Beberapa faktor risiko untuk penyakit arteri koroner antara lain tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Semua faktor risiko ini harus dikendalikan dengan baik.

Lupus bisa dicegah dengan:

1. Mengurangi kontak dengan sinar matahari
2. Menerapkan hidup sehat dan menghindarkan diri dari stres
3. Tidak merokok
4. Berolahraga secara teratur
5. Melakukan diet nutrisi

- H, Rulla A. Systemic Lupus Erythematosus. Merck Manual Home Health Handbook. 2013.

- S, William C. Systemic Lupus Erythematosus. Medicine Net. 2012.