Penyakit
23-02-2018

Kardiomiopati Kongestif (Kardiomiopati Dilatasi)

Kardiomiopati kongestif, atau disebut juga kardiomiopati dilatasi, merupakan sekelompok gangguan otot jantung dimana ventrikel jantung membesar tetapi tidak dapat memompa darah dalam jumlah cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh, sehingga mengakibatkan terjadinya gagal jantung.

Penyebab kardiomiopati dilatasi bisa berupa :

- Penyakit arteri koroner yang luas, dimana pasokan darah ke otot jantung tidak memadai. Akibatnya, terjadi kerusakan dan kematian jaringan otot yang menetap, yang membuat jantung tidak dapat memompa darah dengan kuat.

- Peradangan otot jantung akut akibat infeksi virus, atau adakalanya akibat infeksi bakteri. 

- Penyebab lainnya, seperti :

  • Gangguan hormonal kronis tertentu, misalnya diabetes yang tidak terkontrol
  • Tekanan darah tinggi
  • Kegemukan
  • Detak jantung yang cepat dan menetap
  • Pemakaian zat atau obat tertentu, misalnya alkohol (terutama pada peminum alkohol yang berat dan disertai malnutrisi), kokain, dan obat kemoterapi.
  • Kehamilan
  • Kelebihan zat besi
  • Penyakit jaringan ikat, misalnya artritis reumatoid

Gejala awal kardiomiopati dilatasi biasanya berupa sesak nafas saat beraktivitas dan mudah lelah. Kondisi ini terjadi akibat melemahnya jantung dalam memompa darah (gagal jantung).

Jika kardiomiopati disebabkan oleh infeksi, maka gejala awal bisa berupa timbulnya demam mendadak dan gejala-gejala lain yang mirip dengan gejala-gejala flu. Namun, apapun penyebabnya, jika kerusakan jantung cukup berat, maka pada akhirnya akan terjadi :
- peningkatan kecepatan denyut jantung
- penimbunan cairan di tungkai dan perut
- penimbunan cairan di paru-paru

Pembesaran jantung juga bisa membuat katup jantung tidak dapat menutup dengan normal, sehingga seringkali menyebabkan kebocoran. Selain itu, kerusakan dan peregangan pada otot jantung bisa menyebabkan gangguan irama jantung (aritmia), dimana bisa terasa adanya detak jantung yang tidak teratur atau bahkan kematian.

Darah bisa terbendung di dalam jantung yang membesar, sehingga meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah di dinding jantung. Bekuan darah ini bisa pecah, terlepas, terbawa aliran darah ke bagian tubuh lainnya, dan menyebabkan sumbatan pembuluh darah (menjadi emboli), sehingga terjadi kerusakan organ yang diperdarahi oleh pembuluh darah tersebut. Jika sumbatan terjadi pada pembuluh darah otak, maka bisa terjadi stroke.

Diagnosis didasarkan dari gejala-gejala yang ada, hasil pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, seperti :

  • EKG (Elektrokardiografi), yang bisa mendeteksi kelainan aktivitas listrik jantung. 
  • Ekokardiografi, untuk menghasilkan gambaran jantung dengan menggunakan gelombang suara, sehingga bisa diketahui ukuran jantung dan kemampuan jantung dalam memompa darah.
  • MRI Jantung, untuk melihat gambaran jantung secara lebih mendetail. Pemeriksaan ini lebih sering digunakan untuk memastikan diagnosa, dan terkadang untuk mengidentifikasi penyebabnya.
  • Kateterisasi jantung, bisa dilakukan jika diagnosa masih belum dapat dipastikan. Sebuah kateter halus dimasukkan melalui pembuluh darah perifer ke dalam jantung. Tindakan ini bisa digunakan untuk mengukur tekanan di dalam jantung dan menentukan tingkat keparahan penyakit arteri koroner. Selama kateterisasi, terkadang contoh jaringan diambil untuk diperiksa secara mikroskopik (biopsi). Pemeriksaan ini terkadang bisa mengidentifikasi perubahan mikroskopik yang khas pada beberapa gangguan yang menyebabkan kardiomiopati dilatasi (misalnya infeksi virus yang baru terjadi).

Penanganan yang dilakukan antara lain berupa :

  • Penanganan untuk mengatasi penyebab yang mendasarinya jika memungkinkan.
  • Penanganan umum, misalnya :
    • Menghindari stress
    • Membatasi asupan garam dalam makanan
    • Beristirahat yang cukup
  • Pengobatan untuk memperbaiki fungsi jantung dalam memompa darah, memperpanjang usia harapan hidup, dan membantu mengurangi gejala yang menetap.
  • Pemasangan alat pacu jantung, untuk mengatasi gangguan konduksi listrik jantung.
  • Pemasangan cardioverter-defibrillator pacemaker pada orang-orang dengan fungsi jantung yang buruk dan memiliki risiko yang tinggi untuk terjadinya kematian mendadak.
  • Transplantasi jantung. Karena prognosis penyakit yang buruk, kardiomiopati dilatasi merupakan penyebab paling sering dilakukannya transplantasi jantung.

- A, J. Malcolm O. Dilated Cardiomyopathy. Merck Manual Handbook. 2013.