Penyakit
23-02-2018

Diseksi Aorta

Aorta merupakan pembuluh darah besar yang membawa darah kaya oksigen dari jantung untuk dialirkan ke seluruh tubuh, kecuali paru-paru.

Aorta memiliki dinding yang tebal dengan 3 lapisan otot, sehingga memungkinkan untuk mengalirkan darah dengan tekanan tinggi yang dipompa oleh jantung ke seluruh tubuh.

Pada diseksi aorta, terjadi robekan kecil pada lapisan dinding aorta bagian dalam yang berhubungan langsung dengan darah. Akibatnya, darah bisa masuk melalui robekan ini, sehingga terbentuk saluran baru yang abnormal di dalam dinding aorta. Diseksi aorta bisa mengenai siapa saja, tetapi paling sering terjadi pada pria yang berusia 40-70 tahun.

Sumber : www.aorticdissection.com

Pada beberapa kasus, diseksi aorta bisa menyebabkan robekan pada aorta dan hampir selalu pasti menyebabkan kematian.

Sebagian besar diseksi aorta terjadi akibat kerusakan pada dinding arteri. Kerusakan tersebut seringkali berhubungan dengan tekanan darah yang tinggi (meliputi lebih dari dua pertiga kasus diseksi aorta). Selain itu, ada beberapa kondisi yang berhubungan dengan terjadinya diseksi aorta atau meningkatkan risiko terjadinya diseksi aorta, antara lain :

  • Kelainan jaringan ikat yang diturunkan, misalnya Sindroma Marfan
  • Kelainan bawaan pada jantung dan pembuluh darah
  • Cedera, misalnya akibat jatuh atau kecelakaan kendaraan bermotor yang menimbulkan benturan keras ke dada.
  • Tindakan medis tertentu. Meskipun jarang, diseksi aorta bisa tidak sengaja terjadi saat melakukan kateterisasi pembuluh darah atau pembedahan pada jantung dan pembuluh darah.
  • Aterosklerosis
  • Pembengkakan pada pembuluh darah akibat kondisi tertentu, misalnya pada sifilis.
  • Kehamilan (meskipun jarang).

Gejala-gejala yang bisa ditemukan antara lain :

  • Nyeri, yang muncul secara tiba-tiba dan sangat hebat, seringkali digambarkan seperti dicabik-cabik atau dirobek. Nyeri biasanya dirasakan di dada, tetapi seringkali juga dirasakan di punggung, yaitu di antara kedua tulang belikat.
  • Gejala akibat penurunan aliran darah ke seluruh tubuh, antara lain gelisah, pusing, mual muntah, keringat dingin, sesak nafas, dan pingsan.

Sumber : www.cardiac-surgery.med.nyu.edu

  • Gejala akibat sumbatan cabang pembuluh darah aorta, yang bisa terjadi seiring dengan meluasnya diseksi aorta, misalnya stroke, serangan jantung, nyeri perut, atau kesemutan pada anggota gerak.
  • Gejala-gejala gagal jantung.

Darah bisa merembes keluar dari daerah diseksi ke dalam lapisan selaput jantung. Akibatnya, jantung menjadi tertekan dan tidak dapat memompa darah dengan baik. Kondisi ini bisa menyebabkan terjadinya kematian.

Diagnosa diseksi aorta biasanya bisa ditegakkan berdasarkan gejala-gejala yang ada dan hasil pemeriksaan fisik. Beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk membantu memastikan diagnosa antara lain :

  • Pemeriksaan rontgen dada
  • CT (Computed Tomography) scan dengan kontras
  • Ekokardiografi

Tanpa terapi, sekitar 75% orang dengan diseksi aorta akan meninggal dalam waktu 2 minggu. Dengan pemberian terapi, angka harapan hidup bisa lebih baik. 

Sumber : www.web.uams.edu

Orang-orang dengan diseksi aorta harus dirawat di ruang perawatan intensif, dimana tanda-tanda vital akan dipantau dengan ketat. Kematian bisa terjadi dalam waktu beberapa jam setelah terjadi diseksi aorta. Oleh karena itu, perlu dilakukan penanganan sesegera mungkin.

Diseksi aorta yang terletak dekta dengan jantung hampir selalu dianjurkan untuk diperbaiki melalui pembedahan, kecuali jika terdapat komplikasi yang membuat risiko pembedahan terlalu besar. Pembedahan diperlukan jika :

  • diseksi aorta menyebabkan darah merembes keluar
  • terjadi hambatan aliran darah ke tungkai atau organ-organ vital di perut
  • diseksi aorta menimbulkan gejala
  • diseksi aorta bertambah besar
  • diseksi aorta terjadi pada orang-orang dengan sindroma Marfan

Pembedahan dilakukan dengan cara mengangkat sebanyak mungkin bagian aorta yang mengalami diseksi, menutup saluran abnormal yang terbentuk diantara dinding aorta, dan memasang graft buatan. Selain itu, ada cara terbaru yang lebih tidak invasif dibandingkan cara sebelumnya, yaitu dengan memasang stent-graft menggunakan kateter khusus ke dalam pembuluh darah yang terkena. Cara ini biasanya dilakukan untuk mengatasi diseksi aorta yang letaknya jauh dari jantung.

Sumber : www.hearts.vcu.edu

Cara yang paling penting untuk membantu mencegah terjadinya diseksi aorta adalah dengan menjaga tekanan darah tetap baik. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya diseksi aorta, antara lain :

  • Mengendalikan tekanan darah. Orang-orang yang memiliki tekanan darah yang tinggi perlu berobat secara teratur dan memonitor tekanan darah dengan baik.
  • Tidak merokok atau berhenti merokok.
  • Jaga berat badan ideal.
  • Olahgara teratur.
  • Makan makanan rendah garam.
  • Gunakan sabuk pengaman saat berkendara. Tindakan ini mengurangi risiko terjadinya trauma pada bagian dada.
  • Jika memiliki riwayat keluarga dengan diseksi aorta, maka periksakan diri ke dokter ahli untuk mendapatkan tindakan pencegahan atau penanganan lebih lanjut.

- D, David C. Aortic Dissection. Medline Plus. 2012.

- H, John W. Aortic Dissection. Merck Manual Home Health Handbook. 2008.

- Mayo Clinic. Aortic Dissection. 2011.

- W, Benjamin. Aortic Dissection. Medicine Net. 2012.