Penyakit
23-02-2018

Diagnosis Kanker

Dugaan adanya kanker didasarkan dari gejala-gejala yang ada, hasil pemeriksaan fisik, dan terkadang hasil tes penyaringan (screening). Adakalanya, pemeriksaan radiologi tertentu yang dilakukan karena alasan yang lain, misalnya trauma, menunjukkan kelainan yang mungkin merupakan suatu kanker. Konfirmasi adanya kanker membutuhkan pemeriksaan-pemeriksaan lainnya (pemeriksaan diagnostik). Dan setelah kanker terdiagnosa, maka perlu ditentukan stadiumnya. Penentuan stadium kanker didasarkan dari berbagai kriteria, antara lain seberapa besar kanker yang ada dan apakah telah menyebar ke jaringan di sekitarnya atau ke organ lain yang lebih jauh.

Tes Penyaringan (Screening) Kanker

Tes Penyaringan (screening) dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya kanker sebelum gejala muncul. Tetapi hasil pemeriksaan ini tidak pasti sehingga perlu dikonfirmasi lagi dengan pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan diagnostik dilakukan jika terdapat dugaan adanya kanker.

Tes penyaringan dapat membantu untuk mendeteksi kanker lebih awal, sehingga dapat diterapi lebih cepat sebelum kanker menyebar dan mengurangi jumlah kematian akibat kanker. Namun, meskipun tes penyaringan dapat menyelamatkan hidup seseorang, tetapi biayanya bisa cukup mahal dan kadang menimbulkan reaksi psikis atau fisik. Tes penyaringan juga dapat memberikan hasil positif palsu, dimana diduga terdapat kanker padahal sesungguhnya tidak, atau bisa juga memberikan hasil negatif palsu, dimana tidak ditemukan tanda-tanda adanya kanker padahal telah terjadi kanker.

Hasil positif palsu bisa menimbulkan stres psikis yang tidak semestinya dan bisa membuat dilakukannya pemeriksaan lain yang mahal dan berisiko. Hasil negatif palsu bisa melenakan seseorang dalam perasaan aman yang palsu. Oleh karena itu, praktisi medis harus secara seksama mempertimbangkan apakah perlu dilakukan tes penyaringan atau tidak. Hanya ada beberapa tes penyaringan yang dianggap cukup dipercaya sehingga dapat dilakukan secara rutin.

Dua tes penyaringan yang paling banyak digunakan pada wanita adalah pemeriksaan Papanicolau (Pap smear)untuk mendeteksi kanker leher rahim (kanker serviks) dan mammografi untuk mendeteksi kanker payudara. Kedua tes ini telah berhasil mengurangi angka kematian akibat kanker-kanker tersebut.

Tes penyaringan yang sering dilakukan pada pria adalah pengukuran kadar PSA (Prostate-Spesific Agent) dalam darah. Kadar PSA tinggi pada kanker prostat, tetapi kadarnya juga dapat meningkat pada pembesaran prostat jinak. Hal ini merupakan kelemahan utama dari pemeriksaan PSA, yaitu sering ditemukan hasil positif palsu. Oleh karena itu, laki-laki yang berusia diatas 50 tahun sebaiknya mengkonsultasikan pemeriksaan ini lebih dulu kepada dokter.

Tes penyaringan yang sering dilakukan untuk kanker usus besar adalah tes darah samar pada tinja (occult blood test), dimana darah tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Ditemukannya darah samar pada tinja merupakan petunjuk bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada saluran cerna, bisa karena kanker, atau karena kelainan lain, seperti ulkus, wasir, divertikel, dan kelainan pembuluh darah pada dinding usus, yang juga dapat menyebabkan keluarnya sejumlah kecil darah pada tinja. Selain itu, konsumsi obat-obat tertentu, seperti Aspirin atau obat anti peradangan non-steroid (NSAID) seperti Ibuprofen, atau konsumsi daging merah juga dapat menimbulkan hasil yang positif untuk sementara. Beberapa orang dengan tinja yang mengandung darah bisa memiliki hasil tes yang negatif karena mengkonsumsi Vitamin C. Tes darah samar terbaru yang menggunakan teknik lain memiliki tingkat kesalahan yang lebih kecil, tetapi harganya lebih mahal. Pemeriksaan lain, seperti sigmoidoskopi dan kolonoskopi, juga seringkali dilakukan untuk tes penyaringan kanker usus besar.

Beberapa tes penyaringan dapat dilakukan di rumah. Misalnya pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) setiap bulan dapat membantu untuk mendeteksi kanker payudara. Pemeriksaan testis secara berkala dapat membantu untuk mendeteksi kanker testis, yang merupakan salah satu bentuk kanker yang paling dapat disembuhkan, terutama jika ditemukan pada stadium awal. Pemeriksaan adanya luka pada mulut secara teratur dapat membantu untuk mendeteksi kanker mulut pada stadium awal.

Tumor Marker merupakan zat-zat yang dihasilkan oleh tumor-tumor tertentu yang masuk ke dalam aliran darah. Awalnya pemeriksaan kadar tumor marker dipikirkan bisa menjadi cara yang sangat baik untuk tes penyaringan kanker pada orang-orang yang tidak bergejala. Namun, tumor marker seringkali ada dalam batas tertentu di dalam darah pada orang-orang yang tidak memiliki kanker. Ditemukannya tumor marker tidak berarti bahwa seseorang memiliki kanker. Tumor marker memiliki hanya sedikit berperan dalam tes penyaringan kanker.

Tes Penyaringan Kanker Yg Dianjurkan

Prosedur Frekuensi
Kanker Paru-paru
Rontgen dada Tidak dianjurkan pada pemeriksaan rutin
Sitologi dahak Tidak dianjurkan pada pemeriksaan rutin
Kanker Rektum & Usus Besar
Pemeriksaan darah samar pada tinja (occult blood) Setiap tahun setelah usia 50 tahun
Pemeriksaan rektum Setiap tahun setelah usia 40 tahun
Pemeriksaan sigmoidoskopi dan kolonoskopi

Setiap 5 tahun setelah usia 50 tahun (sigmoidoskopi)

Setiap 10 tahun setelah usia 50 tahun (kolonoskopi)

Kanker Prostat
Pemeriksaan rektum & pemeriksaan darah untuk PSA Setiap tahun setelah usia 50 tahun
Kanker leher rahim, rahim dan indung telur
Pemeriksaan panggul Setiap 1-3 tahun pada usia 18-40 tahun,
setiap tahun setelah usia 40 tahun
Kanker leher rahim
Pap Smear

Setiap tahun, dimulai sejak usia antara 18-21 tahun.

Beberapa wanita berusia di atas 70 tahun dapat berhenti melakukan pemeriksaan Pap Smear rutin jika didapatkan hasil yang normal sebanyak 3 kali atau lebih

Kanker payudara
Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) Setiap bulan setelah usia 20 tahun
Pemeriksaan fisik payudara oleh dokter Setiap 3 tahun pada usia 20-39 tahun, kemudian setiap tahun
Mammografi Setiap tahun, dimulai sejak usia 40 tahun

Diagnosis Kanker

Ketika terdapat dugaan adanya kanker, biasanya dilakukan berbagai pemeriksaan untuk mencitra kanker, seperti pemeriksaan sinar-x, ultrasonografi, atau CT scan. Namun, meskipun pemeriksaan-pemeriksaan ini dapat menunjukkan keberadaan, lokasi, dan ukuran massa yang abnormal, pemeriksaan-pemeriksaan ini tidak dapat memastikan bahwa penyebabnya adalah kanker. Diagnosis kanker dipastikan dengan cara menemukan sel-sel kanker pada pemeriksaan mikroskopis contoh jaringan yang diambil dari daerah yang diduga terdapat kanker (biopsi). Pemeriksaan mikroskopis juga bisa dilakukan pada contoh darah, seperti pada leukemia.

Menentukan Stadium Kanker

Ketika kanker telah terdiagnosa, maka perlu ditentukan stadium kanker, yaitu berdasarkan lokasi, ukuran, pertumbuhan kanker ke jaringan sekitarnya, dan penyebaran ke bagian tubuh lainnya. Penentuan stadium (staging) kanker membantu dokter dalam merencanakan pengobatan yang tepat dan menentukan prognosisnya.

Serangkaian pemeriksaan dilakukan untuk menentukan stadium kanker, seperti pemeriksaan sinar-x, CT scan, MRI, sidik tulang (bone scintigraphy). atau PET (Positron Emission Tomography). Pemeriksaan dipilih didasarkan jenis kanker. CT scan berguna untuk mendeteksi kanker pada banyak bagian tubuh, termasuk otak, paru-paru, kelenjar adrenal, kelenjar getah bening, hati, dan limpa. MRI berguna untuk mendeteksi kanker pada otak, tulang, dan medula spinalis.

Biopsi seringkali digunakan untuk menentukan stadium kanker dan terkadang dapat dilakukan bersama dengan terapi pembedahan awal untuk kanker. Misalnya saat operasi kanker payudara, dilakukan biopsi atau pengangkatan kelenjar getah bening di ketiak untuk menentukan apakah telah terdapat penyebaran kanker. 

Sebagai tambahan pemeriksaan pencitraan, seringkali dilakukan pemeriksaan darah untuk melihat apakah kanker telah mulai menyebar ke hati, tulang, atau ginjal.

Pemeriksaan untuk menentukan stadium kanker

Organ Yang Terkena Jenis Biopsi Yang Dilakukan Pemeriksaan Lainnya
Payudara Biopsi dengan jarum atau dengan mengangkat seluruh benjolan Mammografi 
Scaning hati & tulang
CT scan otak
Pemeriksaan reseptor estrogen & progesteron pada contoh biopsi
Saluran Pencernaan Jaringan untuk biopsi diambil dengan endoskopi atau dengan jarum melalui kulit menuju ke hati, pankreas atau organ lainnya Rontgen dada
Rontgen dengan barium
Ultrasonografi
CT scan
Scaning hati
Pemeriksaan darah untuk enzim hati
Paru-paru Biopsi paru-paru & mungkin biopsi pleura
Mediastinoskopi
Rontgen dada
CT scan
Sitologi dahak
Sistem Limfatik Biopsi kelenjar limfa
Biopsi sumsum tulang
Rontgen dada
Hitung jenis sel darah
Ultrasonografi 
CT scan
Radioisotop scan
Pembedahan eksplorasi
Splenektomi
Prostat Biopsi jarum Pemeriksaan darah untuk asam fosfatase & PSA (prostate-specific antigen)
Ultrasonografi
Testis Pengangkatan testis (buah zakar) untuk biopsi Rontgen dada
CT scan
Rahim, leher rahim, indung telur Jaringan untuk biopsi diambil saat pembedahan eksplorasi Pemeriksaan panggul
Ultrasonografi
CT scan
Barium enema

- F, Matthew G. Diagnosis of Cancer. Merck Manual Home Health Handbook. 2006.