Penyakit
23-02-2018

Kerusakan Telinga Akibat Obat-obatan

Terkadang penggunaan obat-obat tertentu dalam dosis besar bisa menyebabkan timbulnya gangguan pendengaran dan atau keseimbangan. Obat-obat ini menyebabkan kerusakan pada telinga bagian dalam, yaitu bagian yang berperan dalam menerima atau meneruskan suara dan mengatur keseimbangan. Keadaan ini disebut ototoksisitas.

Tingkat kerusakan pada telinga tergantung dari jenis obat yang dikonsumsi, berapa banyak, dan berapa lama. Keparahan gangguan juga bervariasi pada setiap orang.

Obat-obat yang menyebabkan kerusakan pada telinga dikenal sebagai obat-obat ototoksik. Obat-obat ini bisa menyebabkan gangguan pendengaran dan keseimbangan, tetapi sebagian besar obat lebih banyak menyebabkan gangguan pendengaran. Obat-obat ini antara lain :

  • Antibiotik tertentu, misalnya Streptomisin, Neomycin, Kanamycin, Amikacin, Gentamicin, tobramycin, dan Vancomycin.
  • Obat kemoterapi, terutama yang mengandung platinum (Cisplatin dan Carboplatin), bisa menyebabkan gangguan pendengaran dan timbulnya tinitus.
  • Obat diuretik (misalnya Furosemid) yang diberikan melalui suntikan ke pembuluh darah bisa menyebabkan terjadinya gangguan pendengaran menetap pada penderita gagal ginjal yang mendapatkan antibiotik golongan aminoglikosida.
  • Salisilat dosis tinggi (Aspirin)
  • Kuinin, yang digunakan untuk mengobati malaria atau penyakit lainnya, juga bisa menyebabkan terjadinya gangguan pendengaran sementara.

Hampir seluruh obat tersebut dibuang dari tubuh melalui ginjal. Karena itu setiap kelainan fungsi ginjal akan meningkatkan kemungkinan penimbunan obat di dalam darah dan bisa mencapai kadar yang menyebabkan kerusakan.

What is Medicine?

Sumber : www.guardianlv.com

Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh obat-obat ototoksik cenderung terjadi dengan cepat. Gejala awal biasanya berupa tinitus (telinga berdenging) dan vertigo. Pendengaran biasanya akan kembali normal setelah pemakaian obat dihentikan. Tetapi ada beberapa obat yang dapat menyebabkan kerusakan menetap pada telinga bagian dalam, sehingga menyebabkan gangguan pendengaran menetap, meskipun obat-obat telah dihentikan.

Gangguan pendengaran biasanya mengenai kedua telinga. Penderita bisa mengalami kesulitan untuk mendengar suara-suara tertentu, mulai dari suara bernada tinggi sampai kesulitan untuk berkomunikasi saat lingkungan berisik.

Jika gangguan mengenai keseimbangan, maka penderita bisa menjadi tidak stabil dan kesulitan untuk berdiri, berjalan, atau menaiki tangga. 

Tidak ada cara untuk memeriksa apakah sebuah obat telah menyebabkan ototoksisitas, tetapi bisa dilihat obat-obat apa saja yang dikonsumsi selama ini dan apakah berisiko untuk menyebabkan kerusakan pada telinga. Keparahan gangguan bisa ditentukan dengan melakukan pemeriksaan pemeriksaan pendengaran dan keseimbangan.

Adanya ototoksisitas diatasi dengan menghentikan obat-obat penyebabnya, kecuali penyakit yang sedang diobati mengancam nyawa dan tidak ada obat pilihan lain. 

Tidak ada pengobatan yang dapat memperbaiki ototoksisitas, meskipun pada beberapa kasus, gangguan ini dapat hilang dengan sendirinya.

Orang-orang yang mengalami kerusakan berat pada telinga bagian dalam mungkin memerlukan alat bantu dengar, atau implan koklea. 

Jika terjadi gangguan keseimbangan, maka bisa dilakukan rehabilitasi vestibular. Terapi ini bisa berupa latihan untuk membantu memperkuat kemampuan keseimbangan dan koordinasi. Latihan dapat berupa gerakan membungkuk, berdiri, atau berjalan dengan mata terbuka dan kemudian dengan mata tertutup.

Pemakaian obat-obat yang bersifat ototoksik perlu dihindari pada :

  • Wanita hamil, untuk mencegah terjadinya gangguan pada janin.
  • Orang lanjut usia.
  • Orang yang sebelumnya telah mengalami gangguan pendengaran.

Orang-orang yang menggunakan obat-obat ototoksik sebaiknya menggunakan dosis terendah yang efektif. Kepekaan setiap orang terhadap obat-obat tersebut bervarisi, tetapi biasanya gangguan pendengaran bisa dihindari jika kadar obat dalam darah berada dalam kisaran yang dianjurkan. Selain itu, bisa dilakukan tes pendengaran sebelum dan selama menjalani pengobatan.

Jika terjadi perforasi gendang telinga, obat-obat yang bisa menyebabkan kerusakan telinga tidak boleh dioleskan/diteteskan langsung ke dalam telinga karena bisa masuk ke dalam telinga bagian dalam.

- L, Lawrence R. Ear Disorders Caused by Drugs. Merck Manual Handbook. 2012.

- M, Sarah. Ear-Damaging (Ototoxic) Medicines. Web MD. 2011.

- O, Robert C. Ototoxicity (Ear Poisoning). Kids Health. 2012.