Penyakit
23-02-2018

Pasca Persalinan

Selama 6-8 minggu setelah persalinan, ibu bisa mengalami gejala-gejala yang ringan dan bersifat sementara karena tubuhnya kembali menyesuaikan dengan keadaan sebelum hamil.

Pada 24 jam pertama, denyut nadi ibu turun dan suhu tubuh agak meningkat. Dari vagina keluar cairan berdarah selama 3-4 hari, lalu warna cairan akan menjadi kecoklatan sampai hari ke 10-12 dan akhirnya menjadi putih kekuningan.

Setelah persalinan, rahim yang membesar terus berkontraksi dan ukurannya mengecil sampai kembali ke ukuran normal. Kontraksi yang tidak teratur ini seringkali menimbulkan rasa nyeri dan bisa diatasi dengan pemberian analgetik (obat pereda nyeri).

Nyeri berlangsung selama 5-7 hari dan semakin bertambah pada saat menyusui karena kontraksi rahim juga dirangsang oleh hormon yang secara alami dilepaskan pada saat menyusui. Setelah 5-7 hari, rahim kembali keras dan tidak lembek, tetapi masih tetap bisa dirasakan oleh dokter pada pemeriksaan perut. Pada minggu ke-2 setelah persalinan, rahim tidak dapat dirasakan lagi pada pemeriksaan perut.

Pada awal pembentukan air susu, payudara akan terisi penuh oleh air susu sehingga menjadi keras dan sakit. Ibu yang tidak menyusui biasanya akan kembali mengalami ovulasi (pelepasan sel telur) 4 minggu setelah persalinan. Ibu yang menyusui cederung mengalami ovulasi lebih lambat, biasanya 10-12 minggu setelah persalinan.

Hubungan seksual bisa dilakukan setelah ibu merasa siap. Sebaiknya digunakan alat kontrasepsi untuk menghindari kemungkinan terjadinya kehamilan.

INFEKSI POST-PARTUM

Infeksi Post-partum adalah infeksi yang terjadi pada ibu yang baru melahirkan. Jika suhu tubuh pada 2 kali pemeriksaan yang dilakukan dalam 24 jam setelah persalinan dengan selang waktu 6 jam mencapai 38oCelsius dan tidak ditemukan penyebab lainnya (misalnya bronkitis), maka dikatakan bahwa telah terjadi infeksi post-partum.

Infeksi yang secara langsung berhubungan dengan proses persalinan adalah infeksi rahim, daerah sekitar rahim atau vagina. Infeksi ginjal juga bisa terjadi segera setelah persalinan. Penyebab lain dari demam yang cenderung terjadi 4 hari atau lebih setelah persalinan adalah bekuan darah di dalam tungkai atau infeksi payudara.

Infeksi rahim

Infeksi post-partum biasanya berawal di rahim. Ada beberapa kondisi yang membuat wanita semakin rentan terhadap terjadinya infeksi (bakteri yang dalam keadaan normal hidup di dalam vagina, setelah persalinan bisa menyebabkan infeksi di organ tubuh). Kondisi-kondisinya adalah :

  • Anemia
  • Pre-eklamsi
  • Pemeriksaan vagina berulang kali
  • Penundaan persalinan selama lebih dari 6 jam setelah ketuban pecah
  • Persalinan yang lama
  • Operasi sesar
  • Tertinggalnya bagian plasenta di dalam rahim setelah persalinan
  • Perdarahan hebat setelah persalinan

    Gejalanya berupa:
    - menggigil
    - sakit kepala
    - merasa tidak enak badan
    - wajah pucat
    - denyut jantung cepat
    - peningkatan jumlah sel darah putih
    - rahim melunak, membengkak dan nyeri bila ditekan
    - cairan yang keluar dari rahim berbau busuk
    Jika infeksi menyerang jaringan di sekeliling rahim, maka nyeri dan demamnya lebih hebat.

    Komplikasi:
  • Peritonitis (peradangan selaput rongga perut)
  • Terbentuknya bekuan darah di dalam vena panggul, dan risiko terjadinya emboli pulmoner
  • Syok toksik akibat tingginya kadar racun yang dihasilkan oleh bakteri di dalam darah. Syok toksik bisa menyebabkan kerusakan ginjal yang berat dan bahkan kematian.
  • Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan paru-paru dan rahim dan hasil biakan contoh air kemih dan cairan dari rahim.

    Infeksi Ginjal

    Infeksi ginjal yang disebabkan oleh bakteri yang berasal dari kandung kemih bisa terjadi setelah persalinan. Kadang infeksi terjadi akibat pemakaian kateter.

    Infeksi bisa mulai timbul selama kehamilan dimana bakteri bisa ditemukan di dalam air kemih, tetapi tanpa menimbulkan gejala. Jika terjadi gejala, maka akan timbul demam tinggi, nyeri di punggung bagian bawah atau samping, merasa tidak enak badan, sembelit dan kadang nyeri ketika berkemih.

    PERDARAHAN POST-PARTUM

    Perdarahan post-partum merupakan penyebab nomor tiga kematian ibu karena persalinan. Penyebabnya bisa berupa:

  • Perdarahan yang berasal dari tempat melekatnya plasenta. Hal ini bisa terjadi jika rahim tidak berkontraksi dengan baik karena:
    - rahim terlalu teregang
    - persalinan abnormal atau berlangsung lama
    - pemakaian anestesi pengendur otot selama proses persalinan
  • Robekan pada persalinan spontan
  • Bagian plasenta yang tertinggal di dalam rahim
  • Kadar faktor pembekuan darah yang rendah
  • INVERSIO UTERI

    Inversio Uteri adalah suatu keadaan dimana badan rahim berbalik, menonjol melalui leher rahim ke dalam atau ke luar vagina.

    Inversio uteri biasanya terjadi jika seorang pembantu tenaga medis yang kurang berpengalaman terlalu banyak menekan puncak rahim atau terlalu keras menarik tali pusar dari ari-ari yang belum terlepas. Keadaan ini bisa menyebabakan terjadinya syok, infeksi dan kematian.

    Untuk mengembalikan rahim ke keadaan semula, seorang dokter bisa mendorongnya ke saluran vagina, memasukkan sebuah selang ke dalam vagina dan menutup lubang vagina. Lalu melalui selang tersebut dimasukkan larutan garam ke dalam rahim untuk mengembangkan vagina dan membalikkan rahim. Jarang dilakukan pembedahan.

    Meskipun banyak wanita yang tidak mengalami masalah kesehatan serius sesudah melahirkan, tetapi sebaiknya konsultasi ke dokter bila mengalami pendarahan vagina yang berat, nyeri pada panggul, rasa sakit saat bernafas (emboli paru) atau depresi setelah melahirkan.

    INFEKSI POST-PARTUM

    Infeksi umumnya diatasi dengan pemberikan antibiotik melalui infus sampai penderita bebas demam selama 48 jam. Pengobatan bisa dilanjutkan dengan tablet antibiotik selama 2 minggu setelah pulang dari rumah sakit. Pada infeksi ginjal, dianjurkan untuk minum banyak air putih agar ginjal berfungsi dengan baik. 6-8 minggu setelah persalinan dilakukan pemeriksaan air kemih untuk memastikan bahwa tidak ada bakteri yang tersisa.

    Demam yang terjadi 4-10 hari setelah persalinan bisa menunjukkan suatu tromboflebitis saphena (bekuan darah di dalam tungkai). Gangguan ini diobati dengan kompres hangat dan mengangkat tungkai. Mungkin perlu juga untuk diberikan antikoagulan.

    Demam yang mulai timbul lebih dari 10 hari setelah persalinan biasanya disebabkan oleh mastitis (infeksi payudara) atau sistitis (infeksi kandung kemih). Kedua infeksi ini perlu diobati dengan antibiotik. Jika terjadi mastitis, sebaiknya ibu tetap menyusui bayinya untuk mengurangi resiko terjadinya abses payudara. Abses payudara jarang terjadi, biasanya diobati dengan antibiotik dan nanahnya dikeluarkan.

    PERDARAHAN POST-PARTUM

    Untuk mencegah perdarahan, segera setelah bayi lahir, akan diberikan suntikan hormon yang merangsang kontraksi rahim. Jika dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir plasenta tidak lepas dengan sendirinya, maka plasenta harus dilepaskan secara manual (dengan menggunakan tangan dokter). Untuk membantu kontraksi rahim, perut ibu bisa sambil dipijat. Jika perdarahan terus berlanjut, mungkin perlu diberikan transfusi darah. Jika kontraksi rahim tidak juga berhasil dirangsang, bisa dilakukan penghambatan arteri yang menuju ke rahim

    - Webmd. Problem after delivery your baby. 2012