Penyakit
23-02-2018

Croup

Croup (laringotrakeobronkitis) adalah peradangan pada saluran nafas, yaitu trakea dan laring, yang disebabkan oleh infeksi virus yang menular, sehingga menyebabkan batuk, stridor, dan terkadang kesulitan untuk menarik nafas.

Croup disebabkan oleh infeksi virus yang menyebabkan pembengkakan pada permukaan jalan nafas, terutama daerah di bawah laring, sehingga jalan nafas menjadi menyempit. Penyebab paling sering adalah virus para-influenza. Selain itu croup juga dapat disebabkan oleh virus lain, seperti respiratory syncytial virus (RSV) atau virus influenza.

croup illustration

Sumber : www.kidshealth.org

Croup terutama mengenai anak-anak berusia 6 bulan sampai 3 tahun, tetapi adakalanya dapat juga mengenai anak yang lebih kecil atau lebih tua.

Croup yang disebabkan oleh virus influenza bisa sangat parah dan dapat terjadi pada rentang usia yang lebih luas pada anak-anak. Infeksi biasanya menyebar melalui percikan air ludah yang mengandung virus atau kontak benda-benda yang terkontaminasi air ludah penderita.

Kebanyakan anak hanya mengalami satu kali serangan croup, tetapi beberapa anak dapat mengalami serangan croup berulang akibat infeksi virus dengan keparahan dan kekambuhan yang semakin berkurang.

Croup biasanya diawali dengan gejala-gejala yang menyerupai flu, yaitu hidung meler, bersin-bersin, demam ringan, dan terkadang batuk. Kemudian suara anak menjadi serak dan sering batuk dengan suara yang tidak biasa, keras atau seperti meyalak. Gejala croup bervariasi dari tingkat keparahannya.

Terkadang pembengkakan saluran nafas menyebabkan anak kesulitan untuk bernafas, paling jelas terlihat saat anak menarik nafas. Sekitar 50% anak dengan croup mengalami demam. Semua gejala biasanya lebih berat saat malam hari dan dapat membuat anak terbangun dari tidur. Kondisi anak biasanya membaik saat pagi hari, tetapi kembali memburuk pada malam hari.

Gejala lain yang mungkin ditemukan :
- sianosis (warna kulit membiru akibat kekurangan oksigen)
- retraksi interkostal (meningkatnya pemakaian otot-otot leher dan dada sebagai usaha untuk bernafas)

Croup biasanya dapat dikenali dari gejala-gejala yang khas dan hasil pemeriksaan fisik. Foto rontgen sinar-x leher dan dada bisa membantu dokter untuk memastikan diagnosa.

Anteroposterior radiograph in a patient with croup

Sumber : www.medscape.com

Jika seorang anak mengalami batuk yang mirip dengan gejala croup, maka anak tersebut harus segera dibawa ke dokter karena croup bisa cepat sekali memberat.

Umumnya, jika penyakitnya ringan, anak dengan croup dapat dirawat di rumah dan biasanya membaik dalam waktu 3-4 hari. Anak ini perlu dibuat senyaman mungkin, istirahat, dan diberikan air yang cukup karena kelelahan dan menangis akan memperberat kondisinya. Di rumah bisa digunakan humidifier untuk melembabkan udara, sehingga mengurangi kekeringan pada jalan nafas bagian atas dan meringankan pernafasan. Kelembaban juga bisa ditingkatkan dengan pemberian uap air panas.

Untuk penyakit yang lebih berat, dapat diberikan kortikosteroid dosis tunggal untuk mencegah gejala-gejala memburuk. Anak-anak dengan croup yang berlanjut harus segera memeriksakan diri ke dokter dan biasanya perlu dirawat di rumah sakit. Anak-anak yang mengalami kesulitan bernafas, sesak, detak jantung meningkat, lelah, atau membiru perlu diberikan oksigen dan cairan melalui infus. Pengobatan yang diberikan bertujuan untuk mengatasi pembengkakan jalan nafas, misalnya dengan pemberian nebulizer. Antibiotik hanya digunakan jika terjadi infeksi bakteri. Pada kasus yang jarang, pernafasan bisa dibantu dengan alat bantu nafas (ventilator). Untungnya, sebagian besar anak dengan croup dapat pulih sepenuhnya.

Sering mencuci tangan dan menghindari kontak dengan orang-orang yang terkena infeksi saluran nafas adalah cara yang paling baik untuk mencegah penyebaran virus penyebab croup.

- K, Anand D.; M, John T. Croup. Merck Manual Home Health Handbook. 2009.

- D, Yamini. Croup. KidsHealth. 2012.