Perlukah Pemeriksaan Terhadap Hepatitis C?
Kesehatan www.indonesia.go.id, www.healthatoz.com, www.allabouthepatitisc.com
29-08-2006

Perlukah Pemeriksaan Terhadap Hepatitis C?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa 6,6 juta penduduk Indonesia terinfeksi virus Hepatitis C. Bahkan sekitar 3% atau 170 juta orang di seluruh dunia terinfeksi virus Hepatitis C (VHC) atau sering disebut ghost virus dan penderitanya akan terus meningkat seiring bertambahnya infeksi baru yang setiap tahunnya mencapai 3-4 juta orang. Hal inilah yang membuat Hepatitis C menjadi salah satu dari 10 besar penyebab kematian umat manusia.

Hepatitis C saat ini menjadi perhatian tersendiri dalam masalah kesehatan masyarakat karena paling sering menyebabkan hepatitis kronik, sirosis hati dan kanker hati primer. Dibandingkan dengan hepatitis B, virus hepatitis C lebih ganas dan lebih sering menyebabkan penyakit hati menahun. Replikasi virus ini sangat cepat dan dapat mencapai 10 triliun kopi sehari.

Pemerintah melalui Departemen Kesehatan sedang berupaya menanggulangi penyebaran penyakit menular ini kepada masyarakat dan mengajak mereka yang berisiko tinggi segera melakukan pemeriksaan kesehatan.

Anda berisiko tinggi mengidap virus Hepatitis C jika:
  1. Menggunakan injeksi obat terlarang secara intravena
  2. Menerima transfusi darah atau transplantasi organ sebelum Juli 1992 (belum ada tes untuk deteksi VHC)
  3. Memiliki kondisi medis tertentu seperti kelainan faktor pembekuan darah
  4. Tenaga medis, petugas medis gawat darurat, keselamatan publik yang memiliki jarum suntik.
Hepatitis C menyebar melalui darah yang terinfeksi atau produk darah dan sangat jarang melalui hubungan seks. VHC dapat masuk melalui luka oleh pisau cukur, sikat gigi atau jarum yang digunakan untuk tato, injeksi obat, tindik tubuh (body piercing) atau pada alat yang digunakan untuk menghisap kokain.

Penyakit ini belum ada vaksin untuk pencegahannya, tetapi dapat disembuhkan asalkan diperiksa secara dini.

Pemeriksaan untuk Hepatitis C

Ada 4 jenis pemeriksaan utama yang biasa dilakukan untuk mendiagnosa dan memantau infeksi hepatitis C yaitu Uji Elisa anti-VHC, VHC Kualitatif, Tes Genotipe dan Tes Kesehatan Hati.

Uji VHC Kualitatif yaitu jika tes Elisa (yaitu suatu tes antibodi untuk mendeteksi keberadaan antibodi terhadap VHC) menunjukkan seseorang telah terpapar VHC, dokter akan melakukan pemeriksaan VHC PCR (Polymerase Chain Reaction) kualitatif. Pemeriksaan ini secara khusus mencari ada tidaknya RNA VHC.

Tes Genotipe yaitu untuk menentukan jenis VHC yang menginfeksi seseorang. Hasil tes ini akan menentukan lama pengobatan yang akan diberikan dokter. Vaksinasi Hepatitis C belum bisa dilakukan karena virus hepatitis C bervariasi secara genetik, selain itu, virus ini juga memiliki angka mutasi tinggi sehingga sering menghindari antibodi tubuh.

Dengan tingginya angka replikasi dapat dipastikan akan munculnya generasi VHC yang beraneka ragam. Hepatitis C juga disebut infeksi terselubung (silent infection) karena infeksi dini VHC dapat saja tidak bergejala atau bergejala ringan dan tidak khas sehingga umumnya terabaikan. Kebanyakan orang yang memiliki gejala ringan tidak pergi ke dokter.

Banyaknya orang yang tidak terdiagnosis ini memiliki dampak yang serius di mana mereka dapat bertindak sebagai carrier (pembawa virus) dan menularkannya ke orang lain tanpa sadar, selain berpengaruh terhadap proses pengobatan yang dilakukannya.