Memasuki periode penghujan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko banjir yang kerap terjadi. Kondisi ini bukan hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga meningkatkan potensi paparan penyakit. Di tahap inilah penting bagi Anda untuk memahami apa itu leptospirosis.
Banyak orang tidak menyadari bahwa banjir dapat menjadi media penyebaran berbagai bakteri berbahaya. Salah satunya adalah Leptospira, bakteri penyebab leptospirosis yang dapat masuk ke tubuh melalui luka kecil pada kulit. Infeksi ini seringkali terabaikan, padahal resikonya bisa berkembang menjadi serius.
Apa Itu Leptospirosis?
Leptospirosis adalah infeksi bakteri Leptospira yang dapat menyerang manusia melalui celah kecil pada kulit atau lewat selaput lendir. Kondisi ini sering terjadi ketika seseorang kontak dengan air atau lingkungan yang telah tercemar oleh bakteri tersebut.
Setelah memasuki tubuh, bakteri dapat terbawa oleh aliran darah dan menyebar ke berbagai organ. Ginjal menjadi salah satu organ yang paling rentan karena bakteri dapat berkembang biak di sana dan kemudian keluar melalui urine. Proses ini membuat bakteri mudah menyebar ke lingkungan.
Leptospirosis termasuk penyakit zoonosis, sehingga penularannya dapat terjadi melalui urine hewan yang terinfeksi, air yang tercemar, sehingga makanan tidak higienis. Di Indonesia, kasus leptospirosis masih tinggi dan sering meningkat saat banjir akibat sanitasi yang kurang memadai serta tingginya populasi tikus.
Gejala Leptospirosis yang Perlu Diwaspadai

Setelah mengetahui apa itu Leptospirosis, berikutnya adalah pembahasan mengenai gejala yang sangat beragam pada setiap orang. Sebagian penderita hanya merasakan keluhan ringan yang menyerupai flu, sementara lainnya bahkan tidak menunjukkan tanda apapun.
1. Gejala Ringan hingga Sedang
Berdasarkan publikasi ilmiah oleh Wang S. dan Dunn N, infeksi Leptospira dapat menyebabkan spektrum gejala luas. Hal ini bergantung pada respons imun dan tingkat paparan bakteri. Pada tahap awal, keluhan biasanya tampak seperti infeksi virus biasa. Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:
- Demam tinggi mendadak
- Sakit kepala hebat atau nyeri di belakang mata
- Menggigil
- Nyeri otot menyeluruh dan rasa pegal berlebihan
- Mual hingga muntah
- Rasa tidak nyaman di perut
- Diare
- Mata tampak merah
- Muncul ruam di kulit
- Kulit dan mata menguning pada sebagian kasus
Kesamaan gejala dengan penyakit lain membuat leptospirosis sering terabaikan pada tahap awal. Padahal, deteksi dini sangat penting untuk mencegah progresi penyakit.
2. Gejala Berat (Weil’s Syndrome)
Pada sebagian kecil penderita, leptospirosis dapat memburuk dalam 3–10 hari setelah gejala awal muncul. Bentuk ini dikenal sebagai Weil’s syndrome, yang ditandai kerusakan organ vital dan perdarahan. Gejala yang dapat muncul meliputi:
- Kulit dan mata menguning secara signifikan
- Kesulitan bernapas atau napas terasa berat
- Batuk berdarah
- Nyeri di area dada
- Produksi urine menurun atau mengandung darah
- Feses berwarna hitam pekat
- Bercak merah kecil akibat perdarahan di bawah kulit (petechiae)
- Tanda gangguan pada ginjal, hati, atau paru-paru
- Peradangan selaput otak (meningitis)
Kondisi berat ini merupakan keadaan darurat medis dan membutuhkan perawatan segera agar tidak berkembang menjadi kegagalan organ yang fatal.
Pahami Penyebab Apa Itu Leptospirosis
Mengetahui Leptospirosis tidak cukup tanpa memahami dari mana penyakit ini berasal. Kondisi ini muncul akibat infeksi bakteri Leptospira interrogans, mikroorganisme yang umumnya menetap di ginjal hewan tertentu. Memahami pola penularannya dapat mencegah apa itu Leptospirosis secara lebih efektif.
1. Bagaimana Leptospirosis Menyebar ke Manusia
Tidak banyak orang tahu mengenai cara penyebaran karena minimnya pengetahuan. Informasi yang kurang lengkap juga bisa menjadi penyebab seseorang abai akan proses penularannya. Penyebaran leptospirosis umumnya terjadi melalui beberapa cara berikut:
- Kontak langsung dengan urine atau darah hewan yang membawa bakteri Leptospira.
- Bersentuhan dengan air atau tanah yang telah terpapar bakteri, misalnya di area berair, selokan, atau genangan.
- Mengonsumsi makanan atau minuman yang tanpa disadari telah tercemar bakteri Leptospira.
Setiap jalur penularan tersebut berpotensi menjadi sumber infeksi jika seseorang tidak menerapkan kebersihan diri atau bekerja di lingkungan berisiko tinggi. Oleh karena itu, kewaspadaan sangat diperlukan terutama bagi individu yang sering berkegiatan di area terbuka.
2. Faktor yang Meningkatkan Risiko Leptospirosis
Ada faktor yang meningkatkan resiko penyakit ini. Adapun beberapa kondisi yang dapat memperbesar kemungkinan seseorang tertular leptospirosis, antara lain adalah:
- Memiliki pekerjaan yang dekat dengan hewan, seperti peternak atau dokter hewan.
- Bekerja di tambang, lokasi industri basah, atau area yang rentan kontaminasi.
- Beraktivitas di sekitar saluran pembuangan, selokan, atau limbah.
- Tinggal di wilayah yang sering mengalami banjir atau genangan air.
- Sering melakukan kegiatan berkemah, mendaki, atau rekreasi air di alam terbuka.
Selain itu, meskipun sangat jarang, penularan antar manusia dapat terjadi melalui hubungan seksual atau melalui ASI dari ibu yang terinfeksi. Menariknya, temuan ini sejalan dengan artikel ilmiah oleh Goarant, C., yang menegaskan bahwa faktor lingkungan dan profesi merupakan unsur dominan penyebaran.
Langkah Penanganan untuk Mengobati Leptospirosis
Mengetahui cara pengobatan leptospirosis sangat penting agar pasien mendapatkan perawatan yang tepat sejak awal. Memahami apa itu Leptospirosis dan langkah penanganannya dapat membantu pasien dan keluarga lebih siap menghadapi kondisi ini.
1. Memenuhi Kebutuhan Cairan Tubuh
Pada pasien leptospirosis, menjaga keseimbangan cairan menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Dehidrasi yang muncul akibat muntah atau diare dapat memperburuk kondisi tubuh, terutama bila ginjal mengalami gangguan. Dalam kondisi ini, rehidrasi intravena digunakan untuk menggantikan cairan.
Selain itu, pemantauan elektrolit perlu dilakukan secara berkala. Langkah ini bertujuan mencegah komplikasi lebih lanjut yang dapat muncul akibat ketidakseimbangan cairan. Pendekatan ini menjadi pondasi awal cara pengobatan leptospirosis yang efektif.
2. Terapi Antibiotik sebagai Penanganan Utama
Antibiotik adalah komponen utama pengobatan leptospirosis. Dokter biasanya meresepkan obat seperti doxycycline atau penicillin untuk menghambat dan membunuh bakteri Leptospira. Pemberian antibiotik sedini mungkin terbukti mempersingkat durasi penyakit serta menekan risiko komplikasi.
Pemilihan jenis antibiotik disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Dengan pemilihan yang tepat, efektivitas terapi dapat meningkat dan mendukung proses pemulihan lebih cepat.
3. Tindakan Medis Lanjutan Bila Diperlukan
Beberapa kasus leptospirosis dapat berkembang menjadi kondisi yang sangat serius dan merusak organ vital seperti ginjal. Ketika fungsi ginjal terganggu, terapi dialisis diperlukan untuk membantu menyaring racun dari aliran darah. Tindakan ini membantu menjaga kestabilan tubuh hingga fungsi organ.
Jika pasien mengalami gangguan pernapasan atau pneumonia berat, ventilasi mekanis dapat digunakan untuk membantu asupan oksigen. Selain itu, penggunaan vasopressor mungkin direkomendasikan apabila pasien mengalami syok atau tekanan darah yang sangat rendah.
Lindungi Diri dan Keluarga dari Leptospirosis Sekarang Juga
Memahami apa itu Leptospirosis dan gejala yang mungkin muncul merupakan langkah pertama untuk mencegah risiko infeksi. Dengan kewaspadaan sejak dini, Anda dapat mengurangi peluang komplikasi serius dan menjaga kesehatan diri serta orang tercinta. Deteksi dini dan penanganan yang tepat adalah kunci.
Medicastore hadir sebagai solusi terpercaya bagi Anda yang ingin memenuhi kebutuhan kesehatan dengan aman dan nyaman. Anda bisa cari obat-obatan hingga cari suplemen pendukung, semua produk dijamin asli dan dilengkapi layanan konsultasi apoteker. Keunggulan ini membuat Medicastore menjadi pilihan tepat.
Tunggu apalagi, kunjungi website Medicastore sekarang untuk memeriksa katalog lengkap dan pesan produk kesehatan yang Anda butuhkan secara cepat. Ambil langkah proaktif hari ini untuk melindungi diri dan orang terdekat dari bahaya Leptospirosis.
Referensi:
- https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK441858/
- https://www.ecdc.europa.eu/en/leptospirosis/factsheet
- https://www.dovepress.com/leptospirosis-risk-factors-and-management-challenges-in-developing-cou-peer-reviewed-fulltext-article-RRTM
- https://www.metropolisindia.com/blog/preventive-healthcare/leptospirosis-understanding-the-causes-symptoms-and-treatment
- https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/24021-leptospirosis
- https://www.alodokter.com/leptospirosis
- https://www.cdc.gov/leptospirosis/about/index.html
- https://www.medicalnewstoday.com/articles/246829
- https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-penyakit-leptospirosis#mcetoc_1gro9o46fdcm
- https://ciputrahospital.com/penyakit-leptospirosis/