Kesehatan Sumber: suarapembaruan.com
11-08-2005

Perawatan Penderita Gagal Ginjal yang Aktif Bekerja

Penderita gagal ginjal yang menggunakan terapi dialisis peritoneal mandiri yang berkesinambungan (Continuous Ambulatory Peritoneal Dyalisis /CAPD) saat ini sudah bisa mendapatkan sedikit keleluasaan dengan perangkat baru Automated Peritoneal Dyalisis (APD) yang sudah masuk ke Indonesia. Perangkat ini memungkinkan penderita melakukan pergantian cairan dialisat saat melakukan tidur di malam hari, sehingga aktivitas penderita pada siang hari tidak terganggu.

Selain itu perangkat ini didesain ringan dan mudah dipindah-pindah, sehingga cocok untuk penderita yang masih aktif dengan pekerjaannya. Hanya saja perangkat ini belum banyak beredar di Indonesia.

Direktur Medik RS PGI Cikini Tunggul Situmorang dalam acara sosialisasi penggunaan APD kepada perawat-perawat di Jakarta, baru-baru ini menjelaskan penggunaan alat ini relatif lebih mudah karena secara otomatis bisa melakukan pergantian cairan sesuai dengan yang diprogramkan.

Terapi dengan menggunakan pergantian cairan dialisat ini sebenarnya sedang disosialisasikan kepada masyarakat luas di Indonesia sebagai salah satu alternatif penanganan bagi penderita gagal ginjal.

Selama ini dikenal dua metode dalam penanganan gagal ginjal. Pertama, transplantasi ginjal dan kedua, dialisis atau cuci darah. Sebenarnya metode pertama memiliki lebih banyak keunggulan karena dapat menggantikan fungsi ginjal yang rusak. Hanya saja masalahnya, masih sedikit donor yang mau memberikan organ tubuhnya. Selain itu jarang sekali ditemukan donor yang cocok dengan penderita gagal ginjal, sehingga alternatifnya adalah dengan melakukan dialisis.

Metode dialisis pada intinya adalah melakukan fungsi utama ginjal, yakni membersihkan darah dari zat-zat yang tidak berguna pada tubuh dan menjaga kestabilan kandungan darah di dalam tubuh.

Pembersihan ini dilakukan dengan dua cara, haemodialisis (HD) dan peritonialdialisis (PD). Pada HD, darah yang akan dibersihkan dikeluarkan dari tubuh dan dimasukkan ke ginjal buatan (dializer). Darah dibersihkan dengan menggunakan cairan pembersih (dialisat) dalam serat-serat dializer itu. Setelah bersih, darah baru dimasukkan kembali ke dalam tubuh.

Sedangkan pada metode PD, darah tidak dikeluarkan dari dalam tubuh. Proses pembersihan dilakukan di dalam rongga perut (peritoneum), dengan memasukkan cairan dialisat ke dalam rongga itu. Cairan ini dibiarkan selama empat hingga enam jam hingga akhirnya dikeluarkan kembali.

Saat ini sudah berkembang metoda PD dengan berbagai cara seperti CAPD atau APD. Keunggulan utama CAPD adalah kemudahannya dan terapi dengan metode ini pun lebih alami. Proses yang berlangsung terus-menerus selama 24 jam setiap hari menjadikannya hampir sama dengan proses yang berlangsung di dalam ginjal.

Sementara itu, jika melakukan cuci darah biasa secara HD, keseluruhan proses dilakukan selama lima jam, yang berarti cairan tubuh dipaksa diperas untuk dicuci mesin. "Akibatnya beban jantung menjadi bertambah dan menyebabkan gangguan tekanan darah," tutur Situmorang.

Dialisis peritoneal belum banyak digunakan. Padahal terapi ini memiliki kelebihan, yakni tidak mengganggu jantung, kontaminasi dengan hepatitis lebih kecil, fungsi ginjal yang tersisa masih dapat dipertahankan, dan proses dialisis pun bekerja selama 24 jam sesuai dengan kerja ginjal secara alamiah.

"Pasien juga tidak perlu datang ke rumah sakit untuk melakukan cuci darah, tetapi melakukan cuci darah secara mandiri dengan jadwal yang dapat ia buat sendiri," paparnya.

Lebih jauh disebutkan, keuntungan HD adalah dapat dilakukan dalam waktu lebih singkat, lebih efisien terhadap pengeluaran zat-zat dengan berat molekul rendah, dan dapat terjadi pembauran di pusat dialisis antara darah dengan cairan.

Sedangkan kelemahan HD adalah proses ini membutuhkan heparin untuk mencegah pembekuan, namun juga bisa menjadi penyebab perdarahan.

Metode ini juga menimbulkan gangguan haemodinamik dan penambahan beban jantung, karena tekanan darah sulit untuk dikendalikan.

Sementara itu, keuntungan PD adalah lebih memudahkan pengendalian kimia darah dan tekanan darah. Cairan dialisat dapat dijadikan sebagai sumber nutrisi dan bagi penderita diabetes dapat diberikan insulin secara intraperitorial.

Sedangkan, kekurangan PD adalah sering kali menimbulkan infeksi pada rongga perut. Selain itu juga meningkatkan kadar lemak dan mengakibatkan kegemukan (obesitas), serta dapat menimbulkan hernia, serta sakit pinggang.

Sebenarnya dialisis peritoneal telah diperkenalkan sejak 1980-an. Namun, pemakaiannya baru meningkat sejak dua dekade lalu.

Saat ini diperkirakan ada 120.000 penderita gagal ginjal di seluruh dunia menggunakan terapi CAPD. Penggunaan metode ini di Asia mengalami peningkatan hingga 30 persen pada beberapa tahun terakhir.