Kesehatan vidya-medicastore
17-04-2018

Sindroma Tourette

Sindroma Tourette adalah masalah pada sistem saraf yang menyebabkan penderitanya membuat gerakan atau suara secara tiba-tiba (yang disebut dengan tic motorik dan tic vokal), yang tidak dapat mereka kendalikan. Misalnya, penderita sindroma Tourette dapat berulang kali berkedip dan berdehem. Penderita lainnya dapat tiba-tiba mengucapkan sesuatu tanpa disengaja.

Sindroma Tourette biasanya dimulai pada masa kanak-kanak, tetapi tic dan gejala lainnya biasanya membaik setelah beberapa tahun dan terkadang hilang.  

Penyebab Sindroma Tourette

Penyebab dari sindroma Tourette tidak diketahui. Diperkirakan sindroma ini berkaitan dengan bagian dari otak yang membantu mengatur pergerakan tubuh. Dokter tidak mengetahui dengan tepat penyebab dari masalah di otak tersebut, tetapi kemungkinan genetika ikut berperan. Orang yang memiliki anggota keluarga dengan sindroma Tourette cenderung akan menderitanya juga, tetapi dapat memiliki gejala yang berbeda.

Untuk alasan yang tidak diketahui, anak laki-laki cenderung lebih terpengaruh oleh sindroma Tourette dibandingkan dengan anak perempuan.

Gejala Sindroma Tourette

Tic merupakan gejala utama dari sindroma Tourette. Tic biasanya muncul antara usia 5 hingga 9  tahun. Beberapa gejala tic sangat ringan sehingga tidak disadari.

Tic motorik misalnya:

·         Hentakan lengan atau kepala

·         Berkedip-kedip

·         Mulut berkedut

·         Mengangkat bahu

·         Mata berputar

·         Menyeringai

·         Berputar-putar

·         Menyentuh benda dan orang lain

Tic vokal misalnya:

·         Memaki

·         Berdehem

·         Batuk

·         Berteriak

·         Menggerutu

·         Mengulangi perkataan orang lain

·         Mengulangi kata-kata

·         Bersiul

Tic umumnya tidak berbahaya bagi kesehatan secara umum, tetapi tic fisik, misalnya menyentakkan kepala, dapat menyakitkan (Contoh gejala tic dapat dilihat dalam video berikut ini: "motor tics/head jerking tics"). Sebelum tic motorik terjadi, penderita sindroma Tourette dapat merasakan sensasi kesemutan atau tegang. Gerakan tic dapat membuat sensasi tersebut menghilang. Tic dapat memburuk bila penderitanya sedang stress, cemas atau kelelahan.

Hal yang paling penting untuk dipahami pada tic yang berkaitan dengan sindroma Tourette adalah, tic merupakan akibat dari kondisi neuropsikiatri. Perilaku dan suara yang dibuat adalah tidak disadari dan dilakukan bukan karena pilihan penderitanya.

Penderita sindroma Tourette juga dapat memiliki masalah perilaku, misalnya ADHD, perilaku antisosial, perilaku tidak patut, dan mudah marah tiba-tiba. Anak yang menderita sindroma Tourette berisiko di-bully karena tic yang dialaminya.

Penanganan Sindroma Tourette

Tidak ada penanganan untuk sindroma Tourette dan sebagian besar anak dengan tic tidak memerlukan penanganan. Pada beberapa kasus, penanganan dapat direkomendasikan untuk membantu mengontrol tic. Pada sebagian besar kasus, tic pada anak akan hilang ketika mereka mencapai usia remaja akhir atau 20 tahun awal. Sebagian kecil pasien akan tetap memiliki gejala tic seumur hidupnya, tetapi gejala dapat membaik seiring dengan pertambahan usia.

Bila tic menjadi masalah, dokter akan meresepkan obat-obatan untuk menanganinya. Obat-obatan yang diresepkan bekerja pada kimia otak. Obat penurun tekanan darah tinggi golongan tertentu dan obat dari golongan antidepresi juga digunakan.

Selain obat-obatan, penanganan tic lainnya dapat berupa terapi perilaku. Sindroma Tourette bukan masalah psikologis, tetapi psikolog atau dokter psikiatri dapat mengajarkan keterampilan bertahan dan relaksasi yang dapat membantu. dokter juga dapat membantu masalah lain yang berkaitan dengan sindroma Tourette, misalnya ADHD dan kecemasan.  

Terapi Perilaku

1.      Habit reversal training

Pendekatan terapi ini melibatkan pencarian perasaan yang mencetuskan tic. Tahap selanjutnya adalah menemukan alternatif, cara yang tidak terlalu tampak untuk meredakan keinginan untuk munculnya tic.

2.      Exposure with response prevention (ERP)

Metode ini melatih pasien untuk mengendalikan secara lebih baik desakan melakukan tic. Teknik tertentu digunakan untuk mengubah desakan tic, melatih pasien menoleransi sensasi yang dirasakan, tanpa harus melakukan tic, sampai desakan tic menghilang.

Seringkali hal yang terberat menjadi p