Obesitas pada Remaja

Remaja merupakan kelompok usia yang sangat sensitif terhadap masalah gizi karena remaja mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dibandingkan dengan kelompok usia sebelumnya . Percepatan pertumbuhan mempengaruhi komposisi tubuh, tingkat aktivitas fisik, berat badan, dan pertumbuhan massa tulang . Masalah gizi di kalangan remaja 15-19 tahun banyak yang mengalami gizi lebih yaitu obesitas.

Masalah obesitas merupakan masalah global bahkan World Health Organization (WHO) telah menyatakannya sebagai epidemi global . Obesitas terjadi ketika asupan energi secara signifikan melebihi pengeluaran energi dalam jangka waktu yang lama, yang ditunjukkan dengan peningkatan Indeks Massa Tubuh (BMI). Prevalensi di Indonesia 13,5% usia 18 tahun keatas mengalami overweight, sementara itu 28,7% mengalami obesitas (IMT ≥ 25) .


Penyebab Obesitas pada remaja

Penyebab Obesitas pada Remaja

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya obesitas pada remaja sama dengan pada orang dewasa, antara lain:

  • Konsumsi kalori yang lebih banyak dari yang mereka butuhkan, merupakan penyebab terjadinya obesitas pada sebagian besar remaja.
  • Faktor genetik, seringkali berperan dalam terjadinya obesitas.
  • Gangguan endokrin, misalnya hipotiroidisme, tetapi lebih jarang terjadi. Remaja yang mengalami peningkatan berat badan karena gangguan endokrin biasanya memiliki perawakan yang pendek dan memiliki tanda-tanda lain dari gangguan yang mendasarinya.

Gejala Obesitas pada remaja

Gejala Obesitas pada Remaja

Obesitas perlu dibedakan dengan kelebihan berat badan. Kelebihan berat badan adalah keadaan di mana berat badan melebihi berat badan ideal sesuai tinggi badan, yang bisa berasal dari lemak, otot, tulang, air, atau kombinasi dari faktor-faktor ini. Sedangkan obesitas adalah suatu keadaan di mana terjadi penumpukan lemak tubuh yang berlebihan.

Obesitas meningkat dua kali lipat pada remaja dibandingkan saat 30 tahun yang lalu. Meskipun kebanyakan komplikasi obesitas terjadi saat dewasa, tetapi remaja yang mengalami obesitas lebih rentan untuk terkena diabetes tipe 2 dan tekanan darah tinggi dibandingkan teman sebayanya. Kebanyakan remaja yang mengalami obesitas akan tetap sama saat dewasa.

Stigma sosial terhadap penderita obesitas seringkali membuat banyak remaja dengan obesitas merasa memiliki citra diri yang buruk dan semakin menjauhkan diri dari lingkungan sosialnya.


Diagnosis Obesitas pada remaja

Diagnosis Obesitas pada Remaja

Diagnosis obesitas bisa didasarkan dari gejala-gejala yang ada dan hasil pemeriksaan, seperti penghitungan indeks massa tubuh.


Penanganan Obesitas pada remaja

Penanganan Obesitas pada Remaja

Penanganan untuk remaja dengan obesitas antara lain berupa:

  • Pola makan yang sehat. Asupan kalori dikurangi dengan membuat perubahan dalam kebiasaan makan sehari-hari dan asupan makan yang seimbang.
  • Melakukan aktivitas fisik yang rutin, seperti berolahraga. Aktivitas fisik harus ditingkatkan untuk membakar kalori lebih banyak.
  • Konseling, bisa dilakukan untuk membantu remaja mengatasi berbagai masalah yang ada, misalnya rasa rendah diri.

Obat-obat yang membantu untuk menurunkan berat badan umumnya tidak digunakan pada saat remaja karena pertimbangan keamanan dan adanya risiko penyalahgunaan obat.

 

 

 


Dokter Spesialis

Pemilihan tepat untuk penanganan/penggunaan obat hanya oleh dokter spesialis


Referensi

Referensi:

  • L, Sharon. Obesity in Adolescents. Merck Manual Home Health Handbook. 2009.
  • https://unair.ac.id/

Diperbarui 12 September 2023