Depresi
Penyakit
11-12-2020

Depresi

Depresi adalah suatu perasaan sedih yang sangat mendalam, yang bisa terjadi setelah kehilangan seseorang atau peristiwa menyedihkan lainnya, tetapi tidak sebanding dengan peristiwa tersebut dan terus menerus dirasakan melebihi waktu yang normal.

Penyebab Depresi

Penyebab depresi belum sepenuhnya dimengerti. Sejumlah faktor bisa menyebabkan seseorang lebih rentan, antara lain:

  • Faktor keturunan
  • Efek samping dari obat-obat tertentu
  • Kepribadian introvert
  • Peristiwa emosional (terutama kehilangan)

Depresi bisa terjadi atau semakin memburuk tanpa disertai stres kehidupan yang nyata ataupun berarti. Wanita dua kali lebih mudah terkena, meskipun alasannya belum diketahui dengan jelas. 

Faktor biologis yang paling banyak terlibat adalah faktor hormonal. Perubahan kadar hormon pada wanita memegang peranan penting; perubahan suasanan hati bisa terjadi sesaat sebelum menstruasi dan setelah persalinan (depresi post-partum). Perubahan hormon serupa bisa terjadi pada wanita pemakai pil KB yang mengalami depresi. Kelainan fungsi tiroid, yang sering terjadi pada wanita, juga merupakan faktor yang berperan dalam terjadinya depresi.

Depresi juga bisa terjadi karena atau bersamaan dengan sejumlah penyakit atau kelainan fisik. Kelainan fisik bisa menyebabkan depresi secara:

  • Langsung, misalnya ketika penyakit tiroid menyebabkan berubahnya kadar hormon, yang bisa menyebabkan terjadinya depresi.
  • Tidak langsung, misalnya ketika penyakit rheumatoid arthritis menyebabkan nyeri dan cacat, yang bisa menyebabkan depresi.

Ada pula kelainan fisik yang menyebabkan depresi secara langsung dan tidak langsung. Misalnya AIDS; secara langsung menyebabkan depresi jika virus penyebabnya merusak otak; secara tidak langsung menyebabkan depresi jika menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan penderitanya.

Beberapa obat terkadang bisa menyebabkan depresi, misalnya amfetamin, obat antipsikotik, beta bloker, pil KB, indometasin, metildopa, atau reserpin.

Sejumlah gangguan jiwa juga bisa menyebabkan penderitanya mengalami depresi (misalnya gangguan cemas, alkoholisme dan penyalahgunaan zat-zat lainnya, skizofrenia dan stadium awal demensia).

Gejala Depresi

Gejalanya muncul secara bertahap selama beberapa hari atau minggu. Penderita tampak tenang dan sedih atau mudah tersinggung dan cemas.

Beberapa penderita cenderung menarik diri, jarang berbicara, tidak mau makan dan tidak bisa tidur. Sedangkan penderita lainnya bisa tampak sangat gelisah, meremas-remas tangannya serta banyak berbicara.

Banyak penderita yang tidak dapat merasakan emosi duka cita, gembira dan senang secara normal; dunia tampak menjadi semakin suram, tidak ada kehidupan dan mati. Penderita menjadi semakin tidak mampu untuk berpikir, berbicara dan melakukan kegiatan umum lainnya, sehingga aktivitas bisa terhenti sama sekali.

Pikiran penderita seringkali dipenuhi oleh rasa bersalah dan memiliki gagasan untuk menghancurkan dirinya sendiri, serta tidak dapat berkonsentrasi dengan baik. Mereka sering bimbang dan menarik diri, merasa tak berdaya dan putus asa serta berpikir tentang kematian dan bunuh diri.

Penderita mengalami sulit tidur dan seringkali terbangun, terutama pada dini hari. Gairah dan kenikmatan seksual menjadi hilang. Nafsu makan memburuk dan terjadi penurunan berat badan yang kadang menyebabkan penderita menjadi kurus dan terhentinya siklus menstruasi (pada wanita).

Pada depresi yang lebih ringan, penderita bisa makan sangat banyak dan terjadi penambahan berat badan.

Pada sekitar 20% penderita, gejalanya lebih ringan tetapi berlangsung selama bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun.

Beberapa penderita bisa mengeluhkan penyakit fisik, seperti sakit, nyeri, ketakutan akan musibah atau menjadi gila. Penderita lainnya berpikir bahwa mereka menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau yang memalukan (misalnya kanker atau penyakit menular seksual).

Sekitar 15% penderita (terutama pada depresi berat), mengalami delusi (keyakinan palsu) atau halusinasi, yaitu melihat atau mendengar sesuatu yang sesungguhnya tidak ada. Mereka yakin bahwa mereka melakukan dosa atau kejahatan yang tidak dapat dimaafkan, atau mereka mendengar suara-suara yang menuduh mereka telah melakukan berbagai perbuatan yang tidak senonoh atau suara-suara yang mengutuk mereka supaya mati. Kadang penderita membayangkan bahwa mereka melihat peti mati dan orang-orang yang sudah meninggal.

Gejala yang paling serius adalah pemikiran tentang kematian. Banyak penderita yang ingin mati atau mereka merasa sangat tidak berguna sehingga mereka pantas mati. Sekitar 15% penderita menunjukkan perilaku bunuh diri. Rencana bunuh diri merupakan keadaan yang gawat, dan penderita harus dirawat dan diawasi secara ketat, sampai keinginan untuk bunuh diri hilang.

Diagnosis Depresi

Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan tanda dan gejala yang ada. Riwayat depresi sebelumnya atau riwayat keluarga dengan depresi bisa memperkuat diagnosis.

Pemeriksaan darah terkadang bisa dilakukan untuk membantu menentukan penyebab depresi. Hal ini terutama dilakukan pada penderita wanita, di mana faktor hormonal bisa menyebabkan terjadinya depresi.

Pada kasus-kasus yang sulit, bisa dilakukan pemeriksaan lain untuk memperkuat diagnosis. Gangguan tidur adalah gejala depresi yang khusus. Ensefalogram tidur bisa dilakukan guna mengukur waktu yang diperlukan penderita untuk sampai pada tahap tidur REM (periode tidur selama terjadinya mimpi). Dalam keadaan normal diperlukan waktu sekitar 90 menit, pada penderita depresi biasanya hanya diperlukan waktu 70 menit atau kurang.

Penanganan Depresi

Penanganan depresi tidak selalu memerlukan perawatan di rumah sakit. Penderita yang harus dirawat di rumah sakit adalah penderita yang:

  • memiliki kecenderungan bunuh diri atau merencanakan tindakan bunuh diri
  • terlalu lemah karena berat badannya turun
  • memiliki risiko terjadi kelainan jantung karena penderita sangat gelisah

Pemberian obat-obatan merupakan langkah utama dalam mengobati depresi saat ini. Pengobatan lainnya adalah dengan psikoterapi dan terapi elektrokonvulsif. Kadang digunakan kombinasi dari ketiga terapi tersebut.

Obat-obatan Depresi

Setelah diagnosis dipastikan oleh dokter, maka seseorang yang mengalami depresi bisa diberikan pengobatan untuk mengatasi gangguan yang terjadi. Ada berbagai jenis obat yang bisa digunakan, tergantung kondisi masing-masing penderita. Pengobatan harus diminum secara teratur sesuai petunjuk dokter. Mungkin diperlukan waktu hingga beberapa minggu sebelum obat mulai bekerja.

Beberapa jenis obat yang mungkin digunakan antara lain:

  1. Anti-depresan trisiklik.
    Obat golongan ini seringkali menimbulkan efek samping berupa rasa mengantuk dan penambahan berat badan. Obat ini juga menyebabkan peningkatan denyut jantung, penurunan tekanan darah saat penderita berdiri, pandangan kabur, mulut kering, linglung, sembelit, kesulitan untuk mulai berkemih dan orgasme yang tertunda.
  2. Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI).
    Efek sampingnya lebih sedikit dan mungkin digunakan pada penderita depresi yang disertai kelainan jiwa. Efek samping yang terjadi antara lain berupa mual, diare dan sakit kepala, yang bersifat ringan dan akan segera menghilang jika pemakaian obat dilanjutkan. Kerugian utama SSRIs adalah sering menyebabkan disfungsi seksual.
  3. Monoamine oxidase inhibitor (MAOI). Obat golongan ini jarang digunakan karena menimbulkan kesulitan dalam pembatasan diet dan larangan tertentu, sehingga hanya diberikan kepada penderita yang tidak menunjukkan perbaikan dengan anti-depresi lainnya. Penderita yang meminum obat golongan MAOI harus menjalani sejumlah pengaturan diet dan larangan tertentu, misalnya:
    • Tidak mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung tiramin, misalnya bir, anggur merah (termasuk sherry).
    • Menghindari obat-obat tertentu, seperti Phenylpropanolamine dan Dextromethorphan, yang menyebabkan peningkatan tekanan darah yang hebat secara tiba-tiba. Obat lainnya yang juga harus dihindari antara lain anti-depresi trisiklik, SSRI dan meperidin.

Psikoterapi

Psikoterapi yang dijalankan bersamaan dengan pemberian anti depresi memberikan hasil yang lebih baik. Psikoterapi individual maupun kelompok bisa membantu penderita secara bertahap untuk mulai kembali melakukan tanggung jawabnya yang dahulu dan menyesuaikan diri dengan tekanan kehidupan yang normal.

Terapi kognitif bisa membantu mengubah pikiran negatif dan rasa putus asa. Untuk depresi yang lebih ringan, psikoterapi saja bisa sama efektifnya dengan terapi obat-obatan.

Terapi Elektrokonvulsif

Terapi elektrokonvulsif (ECT) digunakan untuk mengatasi depresi berat, terutama pada:

  • penderita psikotik
  • penderita yang mengancam akan melakukan bunuh diri
  • penderita yang tidak mau makan

Terapi ini biasanya sangat efektif dan bisa segera meringankan depresi. Elektroda dipasang di kepala dan diberikan aliran listrik dalam jumlah tertentu. Aliran listrik menimbulkan kontraksi otot dan rasa nyeri, sehingga penderita akan dibius total selama pengobatan. ECT bisa menyebabkan hilangnya ingatan untuk sementara waktu.

Prognosis Depresi

Jika tidak diobati, depresi bisa berlangsung sampai 6 bulan atau lebih. Gejala yang ringan bisa menetap, tetapi fungsi penderita cenderung kembali normal. Sebagian besar penderita mengalami episode depresi berulang, sekitar 4-5 kali sepanjang hidupnya.

Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes: 021-500-454

Rumah sakit untuk melayani panggilan telepon konseling pencegahan bunuh diri:
1. RSJ Amino Gondohutomo Semarang (024) 6722565
2. RSJ Marzoeki Mahdi Bogor (0251) 8324024, 8324025, 8320467
3. RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta (021) 5682841
4. RSJ Prof Dr Soerojo Magelang (0293) 363601
5. RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang (0341) 423444


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cegah Bunuh Diri dengan Nomor Darurat Berikut Ini", Klik untuk baca: https://megapolitan.kompas.com/read/2019/11/18/15455261/cegah-bunuh-diri-dengan-nomor-darurat-berikut-ini?page=all.
Penulis : Audia Natasha Putri
Editor : Irfan Maullana

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Referensi:

  • F, Jan. Depression. Merck Manual Home Health Handbook. 2008.
  • The Free Dictionary. Holiday Blues.
  • www.mydr.com.au (Gambar Cover)