Seminar Bekti-medicastore.com
04-07-2013

Penyandang Diabetes Tetap Bisa Berpuasa, Asalkan ...

Diabetes adalah penyakit kronis yang perlu untuk dikelola dengan baik setiap saat. Penyandang  diabetes juga diharapkan untuk dapat mengelola penyakitnya dalam kehidupan sehari-hari secara mandiri. Begitu juga saat bulan puasa, yang akan datang sebentar lagi, para penyandang diabetes yang igin berpuasa tetap harus menjaga kondisi gula darah & asupan makanannya.  Demikian hal ini diungkapkan dalam acara seminar media dalam rangka peluncuran panduan tentang diabetes saat berpuasa pada masyarakat yang bernama “Managing Diabetes During Ramadan Map ®, pada hari Selasa, 2 Juli 2013 kemarin di Jakarta.

Berdasarkan studi EPIDIAR, yakni penelitian mengenai epidemiologi diabetes dan Ramadan yang dilakukan pada tahun 2001 di 13 negara dengan populasi muslim yang besar, sekitar 79% pasien diabetes tipe 2 berpuasa paling tidak 15 hari selama bulan Ramadan. Pengelolaan (manajemen) diabetes tidak hanya menyangkut soal obat-obatan, namun juga melibatkan edukasi, alat praktis dan program-program pendukung. Berpuasa di bulan Ramadan merupakan kewajiban bagi umat Muslim & sebagian besar diabetisi tetap ingin berpuasa dikarenakan berbagai faktor, misalnya alasan religius, keputusan pribadi yang tidak dapat dihalangi, dll. Namun, ada beberapa pengecualian pada diabetes untuk tidak berpuasa, untuk itu perlu diperhatikan beratnya diabetes yang diderita dan pengobatan yang dijalani.

Sumber : mendosa.com

Sumber : mendosa.com

Menurut dr. Em Yunir, SpPD, KEMD, “Karena sampai saat ini belum adanya panduan pengobatan bagi penyandang diaebetes yang ingin berpuasa, maka cara pengobatan sering diubah sendiri oleh pasien atau oleh dokter. Hal ini dapat mengakibatkan risiko komplikasi, yaitu hipoglikemia (gula darah terlalu rendah) atau hiperglikemia (gula darah terlalu tinggi), dehidrasi, ketoasidosis, trombosis atau sumbatan pada pembuluh darah,”.

Masih menurut dr. Yunir, pada hipoglikemia, diabetisi yang menyandang DM tipe 1 berisiko 4,7 kali lebih banyak dengan prevalensi meningkat dari 3 menjadi 14 kejadian/100 penyandang/bulan. Untuk penyandang DM tipe 2 berisiko 7,5 kali lebih banyak dengan prevalensi 0,4 menjadi 14 kejadian/100 penyandang/bulan.  Sedangkan pada hiperglikemia, penyandang DM 2 menjadi 5 kali lebih banyak, yakni 1-5/100 penyandang/bulan. Untuk penyandang DM 1 menjadi 3 kali lebih banyak. Hal ini dikarenakan pengurangan dosis obat yang berlebihan dan penambahan jumlah makanan serta komplikasi ketoasidosis.

Sumber : thedailystar.net

Diabetisi harus melakukan manajemen diabetes mereka secara mandiri, dimana pemeriksaan gula darah dilakukan beberapa kali dalam sehari, khususnya pada DM tipe 1 atau tipe 2 yang mendapat insulin. Penyandang diabetes juga harus mengetahui risiko yang akan terjadi dan cara mengantisipasinya. Pemeriksaan gula darah disarankan untuk dilakukan saat sebelum berbuka dan 2 jam setelah berbuka, sebelum tidur, sebelum sahur, tengah hari dan sesuai kebutuhan. Selain itu, untuk sahur dianjurkan dilakukan saat mendekati imsak, dengan mengubah jadwal, jumlah dan jenis makanan. Selain penyesuaian dengan dosis obat dan insulin, perlu juga diatur pembagian porsi makan saat maghrib hingga sahur, yakni saat sahur sebesar 50%, setelah taraweh 10%, dan saat berbuka puasa (maghrib)  40% dari total kebutuhan kalori per hari. Ada juga hal yang perlu diingat dan diperhatikan yakni perhatikan jumlah kalori dalam setiap jenis makanan & memperhitungkan kandungan kalori setiap mengambil makanan. Dengan tetap mentaati jumlah, jenis dan jadwal makan serta menghitung jumlah kalori per hari maka para penyandang diabetes tetap dapat berpuasa dengan sehat.

Apabila diperlukan, maka perlu juga dilakukan pembatalan puasa, bila terjadi tanda yang mengkhawatirkan. Menurut dr. Yunir, “Pembatalan puasa bisa dilakukan apabila terjadi tanda-tanda hipoglikemia atau kadar gula darah kurang dari 60 mg/dl atau gula darah kurang dari 70 mg/dl pada beberapa jam setelah sahur, khusus bagi pengguna insulin pada waktu sahur bila kadar gula darah lebih dari 300 mg/dl, dan pada saat sakit, “ .

Managing Diabetes During Ramadan Map® sebagai salah satu bentuk Diabetes Conversation Map (DCM) yang dirancang khusus untuk Ramadan digunakan sebagai alat bagi diabetisi dan keluarga untuk memahami pengelolaan diabetes di bulan Ramadan. Managing Diabetes During Ramadan Mapyang dibuat oleh Healthy Interactions bekerja sama dengan International Diabetes Federation (IDF) dan praktisi kesehatan terkemuka dengan dukungan Eli Lilly bertujuan untuk membuat para penyandang diabetes mengerti mengenai apa risiko berpuasa, apa yang terjadi pada tubuh pada saat berpuasa, komplikasi yang diasosiasikan dengan puasa, mengelola satu hari selama puasa, menyusun rencana pengelolaan diabetes dan Ramadan. Sehingga para penyandang diabetes tersebut masih tetap dapat melakukan ibadah puasa tanpa membahayakan kesehatannya.