Seminar Scientific medicastore
22-08-2007

Terapi Deep Brain Stimulation Bantu Kendalikan Penyakit Parkinson

ki-ka: Dr. Andradi Suryomiharja, Sp.S; Dr. Roul Sibarani, Sp.S; Dr. John Thomas, MBBS; Eugenia.


Penyakit Parkinson bukanlah penyakit yang asing lagi bagi masyarakat. Dunia pernah dikejutkan oleh berita bahwa petinju kelas dunia yaitu Muhammad Ali merupakan salah satu penderitanya. Jagoan di atas ring tinju tersebut pun mengalami kaki gemetar (tremor) sampai muka seperti topeng karena mata yang jarang berkedip dan tanpa ekspresi.

Penyakit parkinson pertama kali dikemukakan oleh James Parkinson tahun 1871 dengan deskripsi shaking palsy. Pada tahun 1941, Marshall Hall menamakannya paralysis agitans. Selanjutnya, penyakit tersebut dinamakan sesuai nama penemu pertamanya, yaitu parkinson.

Parkinson merupakan penyakit degeneratif yang menyerang usia lanjut. Penelitian terhadap prevalensi Parkinson di Indonesia belum ada, tetapi diperkirakan berjumlah 1-3% orang dengan usia di atas 65 tahun. Namun, ada penderita Parkinson di Indonesia yang baru berusia 30-40 tahun.

Menurut Dr. Andradi Suryomiharja, Sp.S (K), pengajar senior Departemen Neurologi FKUI-RSCM, “penyakit Parkinson adalah penyakit yang bersifat kronis dan progresif ditandai oleh gejala-gejala kelainan motorik berupa gemetar, kaku gerakan lamban dan gangguan stabilitas tubuh.”

Dalam media edukasi dan temu pasien Parkinson yang diselenggarakan oleh Yayasan Peduli Parkinson Indonesia di Hotel Acacia, 15 Agustus 2007 lalu, Dr. Andradi mengatakan pentingnya untuk mengenali parkinson dari awal. “Parkinson dapat dikenali dari 4 gejala utamanya yaitu TRAP, gemetar (Tremor), kaku (Rigid), lamban (Akinesia/bradikinesia) dan instabilitas (Postural instability),” tambahnya.

Sejauh ini penyebab penyakit parkinson belum diketahui. Tetapi ada beberapa faktor risiko yang diketahui meningkatkan kemungkinan mendapat penyakit parkinson, yaitu meningkatnya risiko seiring dengan meningkatnya usia, laki-laki lebih mudah terkena daripada wanita, faktor genetik, lingkungan yang tercemar polusi, dan orang kulit putih lebih sering terkena daripada orang kulit hitam dan Asia.

Parkinson menimbulkan gejala-gejala motorik karena berkurangnya zat dopamin di dalam otak. Dopamin ini berkhasiat mengendalikan dan memperhalus gerakan otot tubuh. Berkurangnya dopamin oleh karena sel-sel saraf di substansia nigra yang memproduksi dopamin, mengalami degenerasi. Gejal parkinson muncul jika hampir 80% sel-sel penghasil dopamin rusak.

Pilihan Terapi Untuk Parkinson

Dr. Roul Sibarani, Sp.S, ahli saraf Pusat Penelitian Parkinson Pasifik, Rumah Sakit UBC, Vancouver, Kanada mengatakan, “Treatment untuk penyakit parkinson bersifat individual dan simtomatik, obat-obatan yang biasa diberikan adalah untuk pengobatan penyakit atau menggantikan atau meniru dopamin yang akan memperbaiki tremor, rigiditas, dan slowness.”

Jadi obat-obatan yang ada sekarang hanya menekan gejala-gejala parkinson, sedangkan perjalanan penyakit itu belum bisa dihentikan sampai saat ini. Tidak heran kalau dr. Banon Sukoandari, Sp.S dari Yayasan Peduli Parkinson Indonesia berkata, “Sekali terkena parkinson, maka penyakit ini akan menemani sepanjang hidupnya.”

Sejak diperkenalkan akhir tahun 1960an, levodopa dianggap merupakan obat yang paling banyak dipakai sampai saat ini. Levodopa dianggap merupakan tulang punggung pengobatan penyakit parkinson. Berkat levodopa, seorang penderita parkinson dapat kembali beraktivitas secara normal.

Efek samping levodopa pada pemakaian bertahun-tahun adalah diskinesia yaitu gerakan motorik tidak terkontrol pada anggota gerak maupun tubuh. Respon penderita yang mengkonsumsi levodopa juga semakin lama semakin berkurang.

Untuk menghilangkan efek samping levodopa, jadwal pemberian diatur dan ditingkatkan dosisnya, juga dengan memberikan tambahan obat-obat yang memiliki mekanisme kerja berbeda seperti dopamin agonis, COMT inhibitor atau MAO-B inhibitor.

Jika kombinasi obat-obatan tersebut juga tidak membantu disini dipertimbangkan pengobatan operasi. Operasi bukan merupakan pengobatan standar untuk penyakit parkinson juga bukan sebagai terapi pengganti terhadap obat-obatan yang diminum.

Deep Brain Stimulation (DBS)

Pada tahun 1987, diperkenalkan pengobatan dengan cara memasukkan elektroda yang memancarkan impuls listrik frekuensi tinggi terus-menerus ke dalam otak. Terapi ini disebut deep brain stimulation (DBS).

Dr. John Thomas, MBBS, M.Med, FCRS, FRCS, FAMS mengatakan, “DBS adalah tindakan minimal invasif yang dioperasikan melalui panduan komputer dengan tingkat kerusakan minimal untuk mencangkokkan alat medis yang disebut neurostimulator untuk menghasilkan stimulasi elektrik pada wilayah target di dalam otak yang terlibat dalam pengendalian gerakan.”

Terapi ini memberikan stimulasi elektrik rendah pada wilayah otak yang disebut thalamus. Stimulasi ini digerakkan oleh alat medis implant yang menekan tremor. Terapi ini memberikan kemungkinan penekanan pada semua gejala danefek samping, dokter menargetkan wilayah subthalamic nucleus (STN) dan globus pallidus (GP) sebagai wilayah stimulasi elektris. Pilihan wilayah target tergantung pada penilaian klinis.

Lebih lanjut ditambahkannya, “DBS kini menawarkan harapan baru bagi hidup yang lebih baik dengan kemajuan pembedahan terkini kepada para pasien dengan penyakit parkinson.” DBS direkomendasikan bagi pasien dengan penyakit parkinson tahap lanjut (stadium 3 atau 4) yang masih memberikan respon terhadap levodopa.

Pengendalian parkinson dengan terapi DBS menunjukkan kemanjuran 90%. Berdasarkan penelitian, sebanyak 8 atau 9 dari 10 orang yang menggunakan terapi DBS mencapai peningkatan kemampuan untuk melakukan akltivitas normal sehari-hari.

ActivaTM Therapy keluaran Medtronic Inc, USA merupakan satu-satunya alat DBS yang lulus izin FDA. Operasi pemasangan alat ini baru ada di Singapore oleh Dr. John Thomas, meskipun peralatan operasinya di Indonesia sudah tersedia, tetapi belum ada ahli saraf Indonesia yang pernah melakukannya.

Untuk undangan liputan seminar dan kegiatan lain kirim ke redaksi kami di fax. 021-7397069 atau redaksi@medicastore.