Seminar Bekti-medicastore.com
22-10-2009

Skizofrenia....Obati Penyakitnya, Dukung Penderitanya...

Skizofrenia adalah penyakit gangguan fungsi otak yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan neurotransmitter. Akibat dari penyakit skizofrenia adalah terganggunya kemampuan seseorang untuk berpikir jernih, berinteraksi dengan orang lain dan berperan secara produktif di masyarakat. Di Indonesia sendiri diperkirakan terdapat kurang lebih 2 juta orang yang mengalami skizofrenia, namun hanya sekitar 150 ribu pasien yang berkonsultasi ke dokter. Pada pria kebanyakan penyakit skizofrenia menunjukkan gejalanya pada usia 16-25 tahun, sedangkan pada wanita pada usia 23-36 tahun.

“Penyebab penyakit skizofrenia saat ini belum diketahui dengan pasti, akan tetapi terdapat kombinasi faktor-faktor yang dianggap mempengaruhi seperti faktor genetis, kondisi pra-kelahiran, lingkungan sosial, penggunaan obat-obatan terlarang, dan konstruksi sosial yang berkembang di masyarakat”.

Demikian penjelasan dari Dr. Ashwin Kandouw, Sp.KJ saat berlangsung simposium awam tentang penyakit skizofrenia tanggal 17 Oktober 2009 kemarin yang merupakan kerjasama antara Sanatorium Dharmawangsa, Perhimpunan Jiwa Sehat dan Janssen Cilag divisi dari Johnson & Johnson dalam rangka memperingati hari kesehatan jiwa sedunia.


Simposium.JPG
Acara simposium awam “Pahami dan tangani skizofrenia dengan lebih baik !” yang bertempat di Hotel Nikko, Jakarta tanggal 17 Oktober 2009.

Penyakit skizofrenia merupakan beban yang sangat berat bagi pasien serta keluarganya. Pasien akan memiliki kesulitan untuk berpikir dengan jernih, berinteraksi dengan orang sekitarnya, dan berfungsi secara produktif dalam masyarakat. Banyak pasien pada akhirnya berhenti bekerja ataupun putus sekolah sedangkan keluarga harus mengorbankan banyak waktu, tenaga dan biaya untuk mengobati pasien.

Gejala dari penyakit skizofrenia sendiri dibagi menjadi beberapa gejala, yaitu :
  1. Gejala positif, disebut positif karena perilaku dan pola pikir yang seharusnya tidak ada menjadi ada dalam diri seseorang ketika berinteraksi dengan sekitar. Gejala ini meliputi waham dan halusinasi umumnya berupa halusinasi penglihatan dan pendengaran.
  2. Gejala negatif yang merupakan kebalikan dari gejala positif, dimana perilaku dan pola pikir yang seharusnya ada menjadi hilang. Gejalanya berupa emosi yang datar, ketidakmampuan untuk berinisiatif dan mengikuti jalannya kegiatan dan tidak punya ketertarikan dalam hidup.
  3. Gejala afektif juga sering menyertai penyakit skizofrenia meliputi perasaan tertekan, cemas, kurang tidur, perasaan tidak berharga, pemikiran tentang kematian dan bunuh diri serta perasaan bersalah.
  4. Gejala kognitif, yaitu pola pikir yang tidak beraturan, sering terlihat sebagai kebingungan dalam hal berpikir dan berbicara serta perilaku yang tidak masuk akal.
  5. Gejala agresif yaitu perilaku yang menunjukkan permusuhan dan gangguan dalam pengendalian impuls.
Penyakit skizofrenia sendiri perlu, bisa dan harus disembuhkan. Dalam pengobatan penyakit skizofrenia, kontinuitas pengobatan merupakan salah satu faktor utama keberhasilan terapi. Menurut dr. Ashwin “Pasien yang tidak patuh pada pengobatan akan memiliki resiko kekambuhan lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang patuh pada pengobatan. Ketidakpatuhan berobat ini yang merupakan alasan pasien kembali dirawat di rumah sakit”. Selain itu, lanjutnya, “Pasien yang kambuh membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali pada kondisi semula dan dengan kekambuhan yang berulang, kondisi penderita bisa semakin memburuk dan sulit untuk kembali ke keadaan semula.” Oleh karena itu pengobatan skizofrenia ini harus dilakukan secara terus menerus sehingga penderitanya nanti dapat dicegah dari kekambuhan penyakit sehingga dapat mengembalikan fungsi untuk produktif serta akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidupnya (kebahagiaan).