Seminar Bekti-medicastore.com
02-04-2012

Patuh Minum Obat Kunci Keberhasilan Pengobatan Epilepsi

Kepatuhan terhadap pengobatan merupakan kunci utama bagi para Penyandang Epilepsi (PE) untuk dapat mencapai kualitas hidup yang baik. Ketidakpatuhan PE terhadap pengobatan dapat mengakibatkan terjadinya serangan, pada anak PE akan mengalami gangguan tumbuh kembang, serta menurunkan plastisitas otak. Pengobatan epilepsi diperlukan untuk mengurangi kecenderungan otak untuk mendapatkan bangkitan dengan cara mengurangi kegiatan elektrik yang berlebihan atau mengurangi rangsangan yang diterima oleh neuron atau saraf. Hal tersebut digaungkan oleh Perhimpunan Penanggulangan Epilepsi di Indonesia (PERPEI) dalam seminar media menyambut World Purple Day pada hari Rabu, 21 Maret 2012.

 

dr. Irawan Mangunatmadja, SpA (K) dalam seminar media tersebut mengungkapkan, "Diagnosis epilepsi yang tepat harus dilakukan sedini mungkin dan penentuan obat anti epilepsi yang tepat akan mempengaruhi kesembuhan penyandang epilepsi. Obat anti epilepsi dikonsumsi untuk menekan aktifitas listrik yang berlebihan penyebab epilepsi." "Pemilihan obat yang tepat dan adekuat dalam pengobatan epilepsi sangat mempengaruhi laju kesembuhan penderita. Sangat dianjurkan untuk menggunakan obat yang adekuat khususnya pada anak-anak guna menghindari risiko gangguan pada tumbuh kembangnya, seperti penurunan konsentrasi anak" lanjutnya.

 

Kepatuhan dalam mengkonsumsi obat anti epilepsi menjadi sangat penting guna mengontrol serangan epilepsi. Pada penyandang epilepsi anak, peranan orang tua dalam pengobatan epilepsi menjadi sangat penting karena ketidak patuhan terhadap pengobatan epilepsi dapat memperparah penyakit epilepsi itu sendiri. "Serangan kejang yang sering berulang akibat ketidakpatuhan minum obat akan menyebabkan jaringan otak yang tidak rusak menjadi rusak sehingga dapat menyulitkan terapi epilepsi, bahkan menimbulkan risiko yang membahayakan keselamatan pasien epilepsi. Oleh karena itu, orang tua wajib memperhatikan kedisiplinan anak dalam mengkonsumsi obat anti epilepsi," dijelaskan lebih lanjut oleh dr. Irawan.

 

"Anak yang masih mempunyai plastisitas otak yang baik, akan berusaha memperbaiki kerusakan jaringan yang ada. Apabila serangan kejang masih terjadi, plastisitas otak tidak bisa bekerja dengan baik, sehingga kerusakan jaringan semakin nyata," tambahnya. Sekitar 70 % penderita epilepsi dapat disembuhkan dengan pengobatan yang teratur.

 

 

Diungkapkan oleh dr. Endang Kustiowati, Sp.S (K), MSi., Med "Manajemen pengobatan epilepsi dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, kandungan hayati dari obat epilepsi harus selalu stabil (tidak fluktuatif) dari waktu ke waktu. Kandungan hayati yang terdapat pada obat paten dan obat substitusi jelas berbeda. Perbedaan tersebut memiliki risiko karena bila kandungan hayati tersebut meningkat, dapat mengakibatkan keracunan sedangkan bila kandungannya berkurang akan beresiko kekambuhan sebesar 80%. Kadar, karakteristik dan sistem pelepasan obat yang tidak ekuivalen dapat menyebabkan serangan kembali pada pasien yang sebelumnya sudah terkontrol," ungkapnya.

 

Oleh karena itu penggunaan dan pemilihan obat anti epilepsi haruslah berdasarkan pengawasan dokter, terlebih lagi apabila penyandang hendak melakukan penggantian obat dari obat paten menjadi obat substitusi, maupun sebaliknya. Dokter memiliki peran yang sangat penting untuk menjelaskan secara detail risiko yang terjadi akibat penggantian obat tersebut.