Seminar Bekti-medicastore.com
12-11-2010

Pneumonia, Pembunuh Anak yang Terlupakan

Indonesia merupakan negara dengan tingkat kejadian pneumonia tertinggi ke-6 di seluruh dunia, menurut laporan UNICEF & WHO pada tahun 2006. Sedangkan berdasarkan Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) pada tahun 1992, 1995 & 2001, pneumonia merupakan urutan terbesar penyebab kematian pada balita.

Pneumonia dapat mengenai anak di seluruh dunia, namun angka kejadian terbesar terdapat di Asia Selatan & Afrika. Bila dIumpamakan kematian anak-anak di seluruh dunia akibat pneumonia, maka setiap jam, anak-anak sebanyak 1 pesawat jet penuh (230 anak) meninggal akibat pneumonia, yang mencapai hampir 1 dari 5 kematian balita di seluruh dunia. Insiden pneumonia di negara berkembang adalah 10-20 kasus/100 anak/tahun (10-20%).

World Pneumonia Day (WPD), merupakan hari untuk memperingati & meningkatkan kewaspadaan mengenai pneumonia di seluruh dunia. Tahun ini World Pneumonia Day diperingati pada tanggal 12 November 2010 dengan mengusung tema “ Fight pneumonia, save a child ”. Di Jakarta sendiri, untuk memperingati World Pneumonia Day, maka pada tanggal 9 November 2010 kemarin bertempat di Prodia Tower Jakarta, diadakan seminar media mengenai pneumonia dengan tema “Upaya Percepatan Penanggulangan Pneumonia”. Tema ini diambil karena pneumonia masih merupakan masalah yang besar di Indonesia sampai saat ini. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya-upaya percepatan penanggulangan penyakit ini, terutama untuk mengejar target Millenium Development Goals 1990-2015, dimana salah satu targetnya yang berkaitan adalah menurunkan angka kematian balita.


Para pembicara & tamu pada acara seminar media memperingati World Pneumonia Day di Prodia Tower, Jakarta 09 November 2010

Pneumonia sendiri adalah radang akut pada jaringan paru (alveoli) akibat infeksi kuman yang menyebabkan gangguan pernafasan. Pneumonia berbahaya karena dapat menyebabkan kematian akibat paru-paru tidak dapat menjalankan fungsinya untuk mendapatkan oksigen bagi tubuh.

Menurut Dr. I. Budiman, Sp.A (K), salah seorang pembicara dalam seminar tersebut, “Gejala pneumonia tergantung dari usia & kuman penyebabnya. Biasanya pneumonia didahului dengan gejala selesma (common cold) berupa demam dan/atau batuk dan/atau pilek. Gejala ini dapat disertai nyeri kepala & hilang nafsu makan. Pada perkembangan selanjutnya akan timbul 2 gejala penting pneumonia, yaitu nafas cepat & kesulitan bernafas/sesak nafas. Tanda kesulitan bernafas pada anak antara lain : nafas cepat, hidung kembang kempis & pada kasus pneumonia yang berat dapat terlihat adanya tarikan dinding dada. Deteksi dini berupa pengenalan dini tanda-tanda pneumonia diperlukan untuk dapat melakukan penanganan yang cepat & tepat terhadap penyakit ini.

Sedangkan menurut Dr. Darmawan B.S, Sp.A (K) yang juga merupakan ketua Respirologi UKK IDAI mengemukakan bahwa, “Strategi kunci dalam mengendalikan pneumonia adalah menurunkan angka kelahiran bayi prematur/bayi berat lahir rendah; pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan; gizi cukup & seimbang di semua usia anak; imunisasi terutama DPT, campak, Hib & IPD; serta menciptakan lingkungan tempat tinggal yang bebas asap, baik asap rokok, hasil pembakaran maupun polusi udara”.

Untuk pengobatan pneumonia sendiri diperlukan terapi antibiotik dengan pilihan jenis & dosis yang tepat. Pilihan antibiotika disesuaikan dengan derajat penyakitnya. Orangtua diharapkan harus mengawasi & memastikan pemberian obat sesuai dengan aturan & diminum hingga tuntas. Selain itu pemberian oksigen pada anak yang mengalami pneumonia penting untuk dilakukan, karena pada pneumonia terjadi kekurangan oksigen dalam tubuh anak. Perawatan lain yang juga penting adalah asupan cairan & gizi yang cukup sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan. Obat lain seperti penurun demam, dapat digunakan jika ada keluhan tersebut.

Ayo bersama melawan pneumonia & selamatkan nyawa anak Indonesia !