Seminar Medicastore
20-12-2006

Seminar Erlangga: Common Problems In Pediatrics

“Aduh anak saya demam” atau “Pusing nih, anakku sudah 3 hari batuk pilek” atau “Panik, gak bisa mikir, anakku diare.” Kepanikan orang tua akan mereda dengan bekal pengetahuan dasar kesehatan anak. Padahal kondisi tersebut memang merupakan gangguan kesehatan yang kerap melanda anak dari hari ke hari. Gangguan kesehatan tersebut umumnya ringan dan sembuh dengan sendirinya. Bayi dan anak kecil kerap dilanda gangguan kesehatan “ringan” sebagai salah satu upaya pembelajaran sistem imun mereka.

dr. Farian Sakinah

Sabtu, 9 Desember 2006 lalu, Penerbit Erlangga bersama Yayasan Orangtua Peduli (YOP) mengadakan Talk Show “Common Problems In Pediatrics” di stand area Erlangga, Indonesian Book Fair 2006, Assembly Hall JCC, Jakarta. Narasumber dr. Farian Sakinah a.k.a dr Najwa dari YOP.

Sebagai orangtua, kita tentu tidak menginginkan anak kita menjadi “korban” kepanikan yang tidak beralasan, dimana anak terpapar pada berbagai obat-obatan yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Yuk belajar!

Masyarakat sudah semakin menyadari haknya sebagai pasien bahkan mereka sudah memulai memposisikan dirinya sebagai konsumen, yaitu antara lain hak memperoleh informasi dan pendidikan/binaan.

Pasien memang berhak untuk memperoleh penjelasan yang objektif akan kondisi kesehatannya serta tatalaksananya (mencakup informasi yang objektif perihal resiko dari rencana terapi tersebut), pasien juga harus memperoleh informasi perihal terapi lainnya (pilihannya). Makna lain hak akan informasi mencangkup hak pasien untuk memperoleh edukasi kesehatan khususnya kesehatan preventif dan kesehatan self-care.

Sebagai konsumen/klien, mereka mulai proaktif mempelajari masalah kesehatan terutama masalah kesehatan sehari-hari. Pada anak misalnya, mereka pun mempelajari masalah demam, batuk pilek, diare, muntah, radang tenggorokan, pemberian ASI ekslusif, nutrisi bagi anak (termasuk pemberian makanan tambahan yang benar bagi bayi), imunisasi, bahkan mereka juga memulai mempelajari obat-obatan yang diberikan pada mereka.

POLA PENGOBATAN

Apakah semua gangguan kesehatan harus diatasi dengan antibiotik? Apakah antibiotik menyembuhkan atau mempercepat penyembuhan hampir semua gangguan kesehatan? Bagaimana mengonsumsi obat secara bijak, apa kerugiannya bila tidak bijak? Faktor apa saja yang mempermudah terjadinya dampak negatif alias efek samping obat? Faktor apa saja yang berperan dalam peresepan suatu obat? Ternyata, banyak sekali isu seputar obat.

Selain cost effectiveness, faktor keamanan merupakan salah satu faktor utama yang dilandasi konsep pola penggobatan rasional (rational use of drugs/RUD). Di lain pihak, faktor utama yang menentukan pelaksanaan RUD ini adalah kebijakan peresepan obat yang di pengaruhi oleh banyak faktor. Antara lain regulasi obat, pendididkan kedokteran, informasi dan pengetahuan pola peresepan yang baik, industri farmasi, serta kondisi sosio-kultural setempat. Semua saling terkait.

POLA PENGOBATAN RASIONAL

Pola pemakaiaan obat yang rasional adalah pola pemberian obat yang tapat yaitu pemilihan obat yang tapat untuk penyakitnya, tepat konsumsinya, tepat dosisnya, tepat jangka waktu pemberiannya, dan aman, dengan harga semurah mungkin serta dengan pamberian informasi yang objektif, secara sederhana, pola pemakaian obat yang aman dan efektif (cost-effective). Cost adalah efisien, efektif adalah outcome-nya. Menurut WHO, RUD akan terwujud bila pendekatan sesuai alur di bawah:

1.

Pasien dan masalahnya. Dokter harus mengumpulkan data perihal perjalanan penyakit dan pengobatan yang pernah diperoleh pasien.

2.

Diagnosis: diagnosis tepat atau akurasi tinggi. Bila tidak memungkinkan, setidaknya ada diagnosis perkiraan selanjutnya untuk di konfirmasi dengan pemeriksaan penunjang (laboratorium, pemeriksaan radiologis, dan sebagainya). Selanjutnya dokter memberi penjelasan kepada pasien perihal kondisinya.

3.

Tujuan terapi: Dipengaruhi jenis penyakit dan “keparahan“-nya. Secara garis besar tujuan adalah kesembuhan atau kekurangan/hilangnya gejala/ keluhan.

4.

Pemilihan obat. Dilakukan dalam dua tahapan berikut:

-

Menetapkan obat yang akan dipilih: Tidak jarang, gangguan kesehatan seorang cukup diatasi dengan nasehat, bukan obat. Kondisi yang tidak memerlukan antibiotik tentunya tidak perlu antibiotik dan tidak perlu suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

-

Dari berbagai obat yang tersedia di tahap pertama di atas, dilakukan kajian dari berbagai aspek yaitu efektifitas, keamanan, suitability, biaya, kemudahan pemberiannya, serta persyaratan penyimpanan. Pada anak misalnya, sirup tentunya lebih suitable ketimbang puyer. Dari sisi efektivitas versus biaya, obat generik tentunya menjadi pilihan ketimbang obat bermerek. Ketika membutuhkan antibiotik tentunya dipilih sesuai dengan target yang akan dituju.

5.

Terapi di mulai: Dokter meresepkan obat, memberi penjelasan manfaat dan efek samping obat dan serta tindakan seandainya terjadi reaksi efek samping obat.

-Hasil terapi: Dokter melakukan penilaian terhadap terapi yang sudah dilakukan agar dapat menyimpulkan hasilnya.
-Kesimpulan terapi: Dokter menilai tercapai tidaknya tujuan terapi. Bila tujuan tidak/belum tercapai, dokter meninjau kembali akurasi diagnosis serta mengevaluasi kepatuhan pasien dalam menjalankan terapi.

Contoh sederhana adalah ketika seorang anak batuk kita tahu bahwa batuk adalah gejala dan langkah pertama adalah mencari penyebabnya sehingga dokter dapat menentukan diagnosisnya dan atas dasar diagnosis tersebut baru di tetapkan tatalaksananya.

Contoh lain ketika kita sakit kepala. Sakit kepala bukan penyakit melainkan gejala oleh karena itu hal yang harus dilakukan adalah mencari sumber permasalahanya, adalah di pembuluh darah (migren, tekanan darah tinggi), di otot (tegang, kelelahan), mata (perlu kaca mata?), gigi, otak (peningkatan tekanan di dalam kepala misalnya tumor otak, infeksi otak).

Dokter akan mencari penyebabnya dan menentukan diagnosanya selanjutnya, baru dokter menetapkan tatalaksananya. Dengan perkatan lain, jangan terpaku pada gejala atau terlena dengan upaya mencari penyebabnya. Misalnya jangan tergopoh-gopoh memberikan obat anti diare, anti muntah, atau anti batuk, yang paling penting pikirkan penyebabnya.

DEMAM

Merupakan merupakan alasan terbanyak membawa anak ke dokter. Padahal, umumnya demam tidak berbahaya. Demam merupakan salah satu upaya tubuh untuk memerangi infeksi! Demam BUKAN penyakit. Demam ibarat alarm. Jadi cari penyebabnya kebanyakan demam pada bayi dan anak kecil disebabkan oleh infeksi dan umumnya bukan karena infeksi kuman jahat, umumnya tidak butuh banyak obat, umumnya tidak butuh antibiotik. Dan tingginya demam tidak berarti penyakitnya semakin parah.

Prinsip penanganan:

  • Jangan panik.
  • Ukur suhu tubuhnya dengan termometer (jangan mengandalkan perabaan).
  • Amati perilaku anak.
  • Cegah dehidrasi dengan memberi ekstra cairan/ minum lebih banyak.
  • Kompres air hangat.
  • Ruangan di jaga agar tidak panas. Gunakan pakaian yang tidak tebal.
  • Jika demamnya tinggi, dapat diberi obat penurun panas untuk menurunkan suhu sedikit dan merasa agak nyaman, bukan untuk menormalkan suhu tubuh.

Hubungi dokter jika:

  • Demam >38°C pada bayi usia 3 bulan; >38,5°C pada bayi usia 3-6 bulan; atau >40°C pada bayi usia >6 bulan.
  • Kondisi anak memburuk.
  • Demam sudah berlangsung 72 jam.
  • Tidak mau minum atau sudah mengalami dehidrasi.
  • Rewel atau menangis terus menerus, tidak dapat di tenangkan.
  • Tidur terus menerus, lemas dan sulit dibangunkan (letargi).
  • Kejang atau leher kaku kuduk.
  • Sakit kepala hebat yang menetap.
  • Sesak napas.
  • Muntah, diare terus menerus.
SELESMA & FLU

Penyebabnya infeksi virus. Umumnya berlangsung selama 5 hari (3-14 hari) tergantung daya tahan tubuh dan ada tidaknya penderita lain di sekitar. Tidak ada obat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh anak terhadap infeksi virus flu akan meningkat sejalan dengan waktu.

Prinsip penanganan:

  • Banyak minum.
  • Jika hidung tersumbat berikan tetes hidung air garam steril (NaCI 0,9%) dan menghirup uap air panas.
  • Buat lingkunan lembab.
  • Obat penurun panas bila demam tinggi (>38,5°C).

Pencegahan:

  • Biasakan mencuci tangan.
  • Hindari kontak erat dengan penderita flu.
  • Tutup mulut/ hidung, gunakan sapu tangan/ tissue ketika bersin/ batuk.
BATUK



Batuk merupakan suatu mekanisme tubuh untuk mengeluarkan suatu yang mengganggu saluran nafas kita, seperti dahak, riak benda asing (kacang,dsb). Yang terpenting adalah mencari tahu apa penyebab batuknya. Pada anak, batuk umumnya disebabkan oleh infeksi virus atau oleh alergi. Batuk akibat infeksi virus flu dapat berlangsung hingga 2 minggu. Batuk karena alergi (rinitis alergi, asma, atau alergi suatu zat dati lingkungan) juga bisa berlangsung lama atau hilang timbul selama pencetus alerginya tidak diatasi. Kebanyakan batuk tidak memerlukan antibiotik.

Prinsip penanganan:

  • Banyak minum terutama minuman yang hangat.
  • Hindari asap rokok.
  • Agar anak lebih nyaman, tidurkan dengan bantal agak tinggi.

Hubungi dokter jika:

  • Mengalami kesulitan bernafas atau bernafas dengan sekuat tenaga (tampak otot-otot di sela-sela iga atau di atas belikat tertarik ke dalam) nafas cuping hidung.
  • Kebiruan di bibir, lidah atau wajah.
  • Demam tinggi terutama pada bayi <3 bulan.
  • Terdengar suara whooping saat bernafas sesudah batuk.
  • Batuk disertai darah (kecuali bila anak baru saja mengalami mimisan).
RADANG TENGGOROKAN

Tenggorokan merah bukan alasan memberikan antibiotik. Hanya 10% radang tenggorokan pada bayi dan balita yang disebabkan oleh kuman jahat dan butuh antibiotik, diagnosisnya harus berdasarkan biakan uap tenggorok. Selebihnya adalah karena virus ditandai dengan “hidung berair” atau “meler” dengan atau tanpa batuk.

Prinsip penanganan:

  • Istirahat.
  • Banyak minum. Minum yang hangat memberikan rasa nyaman di tenggorokan.
  • Pada anak yang lebih besar dapat kumur air garam hangat atau menghisap lozenges.
  • Jika demam atau tenggorokannya nyeri dapat diberikan parasetamol.

Pencegahan:

  • Biasakan mencuci tangan.
  • Gunakan sapu tangan/ tissue ketika bersin/ batuk.
  • Jangan gunakan peralatan makan dan minum penderita bersama-sama. Cuci tangan hingga bersih.

Hubungi dokter jika:

  • Gejalanya berlangsung lebih dari 48 jam, terutama jika disertai demam tinggi.
  • Nyeri tenggorokan bertambah berat.
  • Terpapar dengan penderita strep throat.
DIARE & MUNTAH

Diare dan muntah adalah mekanisme alami tubuh untuk mengeluarkan racun, virus/kuman yang masuk ke dalam tubuh. Diare dan muntah itu ibarat alarm tubuh untuk memberitahukan bahwa ada suatu yang tidak beres dalam tubuh kita. Jadi carilah penyebabnya. Sebagian besar penyebabnya pada anak adalah virus.

Tidak perlu diberikan obat anti muntah atau obat untuk “memampatkan” diarenya yang hanya mengurangi/menghentikan keluhan, padahal penyakitnya masih terus menerus berlangsung.

Prinsip penanganan:

  • Cegah dehidrasi.
  • Perbanyak minum, berikan ekstra cairan pada bayi teruskan pemberian ASI.
  • Berikan Oral Rehydration Solution (ORS) seperti pedialit atau oralit.
  • Umumnya tidak membutuhkan antibiotik.
  • Muntah kehijauan.
  • Mata cekung.
  • Ubun-ubun pada bayi cekung.
  • Luar biasa mengantuk, sulit dibangunkan.

Hubungi dokter jika:

  • Ada darah di tinja atau tinja berwarna hitam
  • Diare > 2 minggu.
  • Bayi muntah-muntah selama 6 jam terakhir atau anak selama 12 jam.
  • Sakit perut hebat.

Tanda-tanda dehidrasi berat:

  • Tidak buang air kecil > 8 jam
  • Bibir kering.
  • Air mata kering ketika menangis.
  • Jika kulit dicubiti maka lambat kembali.
  • Luar biasa lemas, layu.
HAL-HAL YANG HARUS DIINGAT ORANG TUA DI RUMAH

Ingatlah, bayi dan anak kecil kerap dilanda gangguan kesehatan “ringan” sebagai salah satu pembelajaran sistem imun mereka. Kita sebagai orang tua harus cerdas dan bijak agar anak tidak terpapar berbagai obat-obatan yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Jadi bila anak sakit, jangan tergopoh-gopoh memberinya obat.

Berikut ini beberapa hal yang harus diingat oleh orangtua:

  • Tidak ada obat pilek yang efektif untuk bayi dan anak.
  • Pada dasarnya, TIDAK ADA yang namanya OBAT BATUK atau PENCAIR DAHAK. NO COUGH SUPPRESSANT. Jangan menekan refleks batuk.
  • Jangan memberikan obat anti diare maupun obat anti muntah
  • Do not treat low grade fever (<38,3°C)
Untuk undangan liputan seminar dan kegiatan lain kirim ke redaksi kami di fax. 021-7397069 atau redaksi@medicastore.