Seminar Scientific Medicastore
25-06-2007

Studi Kasus Kondisi Kesehatan Pengungsi Korban Lumpur Lapindo seminar

Entah kenapa, Indonesia terus menerus didera oleh begitu banyak bencana. Mulai dari tsunami, gempa bumi, banjir sampai lumpur Lapindo. Dari semuanya, hanya bencana lumpur Lapindo yang ada campur tangan manusia. Para penduduk Sidoarjo di sekitar semburan lumpur panas pun menjadi korbannya. “Sehat adalah tidak hanya kondisi fisik, namun juga kondisi mental dan sosial yang memungkinkan setiap warga negara dapat hidup produktif secara sosial dan ekonomi.”

Dokter dari Universitas Airlangga, Surabaya ini menambahkan bahwa seharusnya ditambah satu aspek lagi untuk mendefinisikan kesehatan yaitu aspek spiritual karena di lapangan ditemukan kasus krisis kepercayaan kepada Tuhan.

Kejadian semburan lumpur lapindo sudah menjadi bencana lingkungan dan sosial. Di tempat pengungsian, keluarga dipisah hanya dengan bedeng, kalau ada yang berhubungan seksual maka anak-anak pun bisa melihat. Hal ini tentu mengkhawatirkan bagi perkembangan anak.

Depresi sampai Copy Cat Suicide

dr. Nalini, SpKJ yang juga staf pengajar FK Universitas Airlangga, Surabaya, menjelaskan bahwa lumpur Lapindo merupakan kejadian yang kronis dan progresif. Beda dengan tsunami dan gempa yang bersifat akut dan menimbulkan trauma.

“Ketidakpastian ini yang yang membuat depresi,” ungkap dr. Nalini, SpKJ. Dampaknya korban lumpur lapindo menjadi mudah tersinggung, cemas, putus asa, gangguan seks/affair (marital problem), dll. Gangguan depresi yang tidak teratasi akan menghilangkan daya juang sehingga menurunkan quality of life.

Dokter yang kini menjadi ketua Perhimpunan Spesialis Kesehatan Jiwa cabang Surabaya juga mengungkapkan bahwa sebenarnya telah terjadi depresi masal sejak 1997 yaitu saat krisis ekonomi melanda Indonesia sampai sekarang. Depresi ini akan membuat individu Indonesia sakit karena tidak mampu bangkit dari keterpurukan.

Kabarnya, sudah ada 2 orang pengungsi lumpur Lapindo yang gila (psikotik) dan dibawa ke RS dr. Sutomo. Namun, menurut hasil cross check IDI cabang Sidoarjo, beberapa rumah sakit seperti RS Menur, RS dr. Soetomo dan RS Porong mengaku tidak ada yang merawat pasien korban lumpur Lapindo.

Kalau orang gila, kita dengan mudah melihat bahwa orang tersebut mengalami gangguan. Beda dengan depresi yang sering tidak terlihat. Bahayanya, depresi bisa berujung bunuh diri. Di tengah depresi masal yang sedang terjadi, bukan tidak mungkin akan muncul gangguan copy cat suicide (meniru bunuh diri).

Kenapa Pemerintah Tidak Bergerak?

Semburan lumpur Lapindo telah terjadi lebih dari setahun. Selama itu, sekitar 4 desa di Sidoarjo tergusur dari lahannya sendiri dan menempati lokasi pengungsian yang minim fasilitasnya.

IDI cabang Sidoarjo mengungkapkan bahwa permasalahan pengungsian yang paling penting adalah waktu yang sudah berlarut-larut. Seharusnya jangka waktu pengungsian itu ada batasnya, kemudian dipikirkan penanganannya seperti relokasi.

dr. Nalini, SpKJ menegaskan bahwa kuncinya ada di Pemerintah sebagai regulator. Hal pertama yang harus dilakukan Pemerintah adalah dengan tidak membuat masalah berlarut-larut. Ketidakpastian yang membuat depresi dapat menjadi pemicu bagi pengungsi. Justru, pengungsi harus dikuatkan mentalnya, dikeluarkan daya juangnya.

Para dokter spesialis jiwa dapat melakukan empowerment (pemberdayaan). Caranya dengan mencari key person diantara para pengungsi untuk deteksi gangguan depresi. Key person itu kemudian dididik untuk memberi motivasi lalu mengajak keluarganya dan lainnya.

Dr. dr. Fachmi Idris, Ketua Umum PB IDI, mengungkapkan bahwa manajemen yang harus dibenahi. “Badan Rekonstruksi yang sekarang baru datang sekali, makin tidak jelas menangani permasalahan. Selain itu pemerintah daerah pun tidak mempunyai otoritas dalam hal pengadaan.”

Menyongsong Seabad Kiprah Dokter

program_idiPada kesempatan yang sama juga dilakukan pencanangan program PB IDI menyongsong seabad kiprah dokter dan seabad kebangkitan nasional Indonesia. Kembali mengingat sejarah Indonesia, kelompok pertama yang memiliki semangat nasionalisme adalah dokter pada tahun 1908 yang kemudian melahirkan semangat kebangkitan nasional 20 Mei 1908.

Dokter Wahidin Sudirohusodo merupakan penggagas berdirinya Budi Utomo. Gagasan tersebut diimplementasikan oleh mahasiswa kedokteran (dokter Sutomo dkk) dalam bentuk organisasi Budi Utomo yang dilahirkan pada tanggal 20 Mei 1908. Kemudian tanggal berdirinya Budi utomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Menjelang sebad kiprah dokter (20 Mei 1908-20 Mei 2008), apakah tujuan untuk mencapai kehidupan berbangsa yang terhormat sebagimana dicita-citakan pertama kali oleh para dokter tersebut sudah tercapai?

Secara teoritis, kondisi kesehatan rakyat pada akhirnya hanya dipengaruhi 4 faktor utama yaitu kependudukan, pelayanan kesehatan, lingkungan dan perilaku. Dari keempat faktor utama tersebut, perilaku memiliki kontribusi sebesar 50%. “Oleh sebab itu, IDI pun mengajak Franky Sahilatua sebagai budayawan dalam diskusi bulanan IDI kali ini,” jelas Dr. dr. Fachmi Idris.

Perubahan perilaku harus menjadi fokus utama pembangunan dalam bidang keehatan. Perilaku adalah variabel sosial yang menggambarkan budaya masyarakat. Intervensi terhadap perilaku menjadi penting dan memiliki dampak jangka panjang untuk membangun karakter bangsa agar tidak hanya sehat secara fisik, namun juga mental-sosial.

Semangat kebangkitan nasional adalah semangat dokter Indonesia menyehatkan bangsa. Dr. dr. Fachmi Idris mengungkapkan ada program prioritas yaitu:

  1. Revitalisasi semangat kebangkitan nasional melalui budaya sehat.
  2. Memperkuat implementasi humanisme, etika, dan kompetensi dokter Indonesia.
Menuju Mei 2008 harus diisi dengan semangat dan langkah konkrit untuk menyehatkan bangsa. 20 Mei 2008 harus dijakan momentum kebangkitan nasional fase ke-2, kebangkitan untuk mencapai kehidupan bangsayang terhormat sebagimana pernah dicita-citakan para dokter pendiri Budi Utommo.

Di halaman muka kantor PB IDI, dilakukan pembukaan selubung banner bertuliskan menyonsong seabad kiprah dokter dan program prioritas dengan diiringi lagu “karena sakit tidak terobati” oleh Franky Sahilatua. Rumah, sawah, pabrik, sekolah, dan instasi pemerintah pun tertimbun lumpur panas yang mengandung gas beracun (H2S). Alhasil, banyak keluarga yang harus pindah dari rumahnya ke tempat pengungsian dan kehilangan pekerjaan. Hal ini dapat berdampak pada kesehatan para pengungsi.

Sehat secara Fisik, Mental & Sosial

ki-ka: Franky Sahilatua; dr. Parini, PHD; dr. Nalini, SpKJ; dr. Zaenal Abidin (SekJen IDI)


Jakarta, Selasa, 12 Juni 2007 bertempat di kantor Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) diadakan diskusi publik yang membahas studi kasus kondisi kesehatan pengungsi korban lumpur Lapindo.

Kantor IDI cabang Sidoarjo melaporkan hasil kunjungannya ke lokasi pengungsian untuk mendapatkan informasi tentang kondisi fisik-mental-sosial pengungsi korban lumpur Lapindo dan gambaran yang terjadi terkait implikasi pergeseran budaya/perilaku bangsa di sana.

dr. Parini, PHD yang termasuk tim dokter dari Kantor IDI cabang Sidoarjo mengungkapkan bahwa, “Sehat adalah tidak hanya kondisi fisik, namun juga kondisi mental dan sosial yang memungkinkan setiap warga negara dapat hidup produktif secara sosial dan ekonomi.”

Dokter dari Universitas Airlangga, Surabaya ini menambahkan bahwa seharusnya ditambah satu aspek lagi untuk mendefinisikan kesehatan yaitu aspek spiritual karena di lapangan ditemukan kasus krisis kepercayaan kepada Tuhan.

Kejadian semburan lumpur lapindo sudah menjadi bencana lingkungan dan sosial. Di tempat pengungsian, keluarga dipisah hanya dengan bedeng, kalau ada yang berhubungan seksual maka anak-anak pun bisa melihat. Hal ini tentu mengkhawatirkan bagi perkembangan anak.

Depresi sampai Copy Cat Suicide

dr. Nalini, SpKJ yang juga staf pengajar FK Universitas Airlangga, Surabaya, menjelaskan bahwa lumpur Lapindo merupakan kejadian yang kronis dan progresif. Beda dengan tsunami dan gempa yang bersifat akut dan menimbulkan trauma.

“Ketidakpastian ini yang yang membuat depresi,” ungkap dr. Nalini, SpKJ. Dampaknya korban lumpur lapindo menjadi mudah tersinggung, cemas, putus asa, gangguan seks/affair (marital problem), dll. Gangguan depresi yang tidak teratasi akan menghilangkan daya juang sehingga menurunkan quality of life.

Dokter yang kini menjadi ketua Perhimpunan Spesialis Kesehatan Jiwa cabang Surabaya juga mengungkapkan bahwa sebenarnya telah terjadi depresi masal sejak 1997 yaitu saat krisis ekonomi melanda Indonesia sampai sekarang. Depresi ini akan membuat individu Indonesia sakit karena tidak mampu bangkit dari keterpurukan.

Kabarnya, sudah ada 2 orang pengungsi lumpur Lapindo yang gila (psikotik) dan dibawa ke RS dr. Sutomo. Namun, menurut hasil cross check IDI cabang Sidoarjo, beberapa rumah sakit seperti RS Menur, RS dr. Soetomo dan RS Porong mengaku tidak ada yang merawat pasien korban lumpur Lapindo.

Kalau orang gila, kita dengan mudah melihat bahwa orang tersebut mengalami gangguan. Beda dengan depresi yang sering tidak terlihat. Bahayanya, depresi bisa berujung bunuh diri. Di tengah depresi masal yang sedang terjadi, bukan tidak mungkin akan muncul gangguan copy cat suicide (meniru bunuh diri).

Kenapa Pemerintah Tidak Bergerak?

Semburan lumpur Lapindo telah terjadi lebih dari setahun. Selama itu, sekitar 4 desa di Sidoarjo tergusur dari lahannya sendiri dan menempati lokasi pengungsian yang minim fasilitasnya.

IDI cabang Sidoarjo mengungkapkan bahwa permasalahan pengungsian yang paling penting adalah waktu yang sudah berlarut-larut. Seharusnya jangka waktu pengungsian itu ada batasnya, kemudian dipikirkan penanganannya seperti relokasi.

dr. Nalini, SpKJ menegaskan bahwa kuncinya ada di Pemerintah sebagai regulator. Hal pertama yang harus dilakukan Pemerintah adalah dengan tidak membuat masalah berlarut-larut. Ketidakpastian yang membuat depresi dapat menjadi pemicu bagi pengungsi. Justru, pengungsi harus dikuatkan mentalnya, dikeluarkan daya juangnya.

Para dokter spesialis jiwa dapat melakukan empowerment (pemberdayaan). Caranya dengan mencari key person diantara para pengungsi untuk deteksi gangguan depresi. Key person itu kemudian dididik untuk memberi motivasi lalu mengajak keluarganya dan lainnya.

Dr. dr. Fachmi Idris, Ketua Umum PB IDI, mengungkapkan bahwa manajemen yang harus dibenahi. “Badan Rekonstruksi yang sekarang baru datang sekali, makin tidak jelas menangani permasalahan. Selain itu pemerintah daerah pun tidak mempunyai otoritas dalam hal pengadaan.”

Menyongsong Seabad Kiprah Dokter

program_idiPada kesempatan yang sama juga dilakukan pencanangan program PB IDI menyongsong seabad kiprah dokter dan seabad kebangkitan nasional Indonesia. Kembali mengingat sejarah Indonesia, kelompok pertama yang memiliki semangat nasionalisme adalah dokter pada tahun 1908 yang kemudian melahirkan semangat kebangkitan nasional 20 Mei 1908.

Dokter Wahidin Sudirohusodo merupakan penggagas berdirinya Budi Utomo. Gagasan tersebut diimplementasikan oleh mahasiswa kedokteran (dokter Sutomo dkk) dalam bentuk organisasi Budi Utomo yang dilahirkan pada tanggal 20 Mei 1908. Kemudian tanggal berdirinya Budi utomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Menjelang sebad kiprah dokter (20 Mei 1908-20 Mei 2008), apakah tujuan untuk mencapai kehidupan berbangsa yang terhormat sebagimana dicita-citakan pertama kali oleh para dokter tersebut sudah tercapai?

Secara teoritis, kondisi kesehatan rakyat pada akhirnya hanya dipengaruhi 4 faktor utama yaitu kependudukan, pelayanan kesehatan, lingkungan dan perilaku. Dari keempat faktor utama tersebut, perilaku memiliki kontribusi sebesar 50%. “Oleh sebab itu, IDI pun mengajak Franky Sahilatua sebagai budayawan dalam diskusi bulanan IDI kali ini,” jelas Dr. dr. Fachmi Idris.

Perubahan perilaku harus menjadi fokus utama pembangunan dalam bidang keehatan. Perilaku adalah variabel sosial yang menggambarkan budaya masyarakat. Intervensi terhadap perilaku menjadi penting dan memiliki dampak jangka panjang untuk membangun karakter bangsa agar tidak hanya sehat secara fisik, namun juga mental-sosial.

Semangat kebangkitan nasional adalah semangat dokter Indonesia menyehatkan bangsa. Dr. dr. Fachmi Idris mengungkapkan ada program prioritas yaitu:
  1. Revitalisasi semangat kebangkitan nasional melalui budaya sehat.
  2. Memperkuat implementasi humanisme, etika, dan kompetensi dokter Indonesia.


Menuju Mei 2008 harus diisi dengan semangat dan langkah konkrit untuk menyehatkan bangsa. 20 Mei 2008 harus dijakan momentum kebangkitan nasional fase ke-2, kebangkitan untuk mencapai kehidupan bangsayang terhormat sebagimana pernah dicita-citakan para dokter pendiri Budi Utommo.

Di halaman muka kantor PB IDI, dilakukan pembukaan selubung banner bertuliskan menyonsong seabad kiprah dokter dan program prioritas dengan diiringi lagu “karena sakit tidak terobati” oleh Franky Sahilatua.

Untuk undangan liputan seminar dan kegiatan lain kirim ke redaksi kami di fax. 021-7397069 atau redaksi@medicastore.