Seminar nita-medicastore.com
12-08-2008

Demensia Alzheimer, Bukan Sekedar Demensia Biasa

Diperkirakan pada tahun 2025 jumlah penderita demensia di Asia Pasifik meningkat lebih dari dua kali lipat dan dikhawatirkan jumlah tersebut akan terus meningkat. Saat ini dalam sehari terjadi satu kasus demensia baru tiap tujuh detik. Sementara itu jumlah penderita demensia di dunia diperkirakan mencapai 80 juta pada tahun 2040. Peningkatan rata-rata di negara berkembang diperkirakan akan menjadi empat kali lebih tinggi dibandingkan negara maju. Sehingga tak keliru bila demensia kerap disebut sebagai “The Disease of the Century” atau penyakit abad ini.

Demensia atau pikun merupakan suatu sindroma penurunan kemampuan intelektual secara progresif oleh karena merosotnya fungsi kognitif sehingga mengakibatkan gangguan fungsi sosial, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari. Demensia dapat disebabkan oleh pelbagai hal antara lain penyakit jantung, paru, ginjal, gangguan darah, infeksi, gangguan nutrisi, berbagai keadaan keracunan serta kelainan otak primer seperti stroke, infeksi dan proses degenerasi. Demensia merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling besar dalam kelompok lanjut usia.

Demensia Alzheimer

Salah satu bentuk demensia akibat degenerasi otak yang sering ditemukan pada pasien lanjut usia yakni demensia alzheimer. Penyebab demensia alzheimer tak lain adalah penyakit alzheimer. Demensia alzheimer dikategorikan sebagai penyakit degeneratif otak yang progresif yang mematikan sel-sel otak sehingga mengakibatkan menurunnya daya ingat, kemampuan berpikir, dan perubahan perilaku.

“Demensia alzheimer adalah pembunuh otak karena penyakit ini mematikan fungsi sel-sel otak,” tegas dr. Samino, SpS (K), Ketua Umum Asosiasi Alzheimer Indonesia (AAzI) pada diskusi di Jakarta (6/8) dalam rangka menyongsong Hari Alzheimer Sedunia yang diperingati setiap tanggal 21 September. Tema Hari Alzheimer Sedunia tahun ini adalah “No Time To Lose”, yang artinya tidak ada waktu yang terbuang percuma bagi kaum lanjut usia.

Gejala dini demensia alzheimer antara lain gangguan memori yang mempengaruhi keterampilan pekerjaan; kesulitan melakukan tugas yang biasa dilakukan dan berbahasa; gangguan pengenalan waktu dan tempat; kesulitan mengambil keputusan yang tepat; kesulitan berpikir abstrak; salah meletakkan barang; perubahan mood dan tingkah laku; perubahan kepribadian serta kehilangan inisiatif.

Namun sayangnya, gejala dini demensia alzheimer sering terabaikan dan hanya dianggap sebagai gejala lanjut yang wajar seiring pertambahan usia atau terjadi salah diagnosis. Pasien juga seringkali kurang menaruh perhatian pada gejala yang timbul serta menyangkal kondisinya sendiri. Padahal, kegagalan mendiagnosis dini demensia alzheimer dapat mengakibatkan penanganan yang tidak tepat dan memberikan beban tambahan berupa beban ekonomi, sosial, dan emosi pada penderita dan keluarga.

seminar_demensia_alzheimer
Ki-ka: Moderator; Dewi Phang (PT Eisai Indonesia); dr. Suryo Dharmono, SpKJ (K);
dr. Samino, SpS (K); dan Ibnu Abas, S.Kep


Perubahan Perilaku dan Psikologik

Penderita demensia dapat mengalami berbagai bentuk perubahan perilaku dan psikologik yang dikenal sebagai Behavioral and Psychological Symptoms of Dementia (BPSD). BPSD seringkali terlambat dikenali atau bahkan salah diagnosis sebagai depresi atau late onset schizophrenia. Kejadian BPSD pada demensia alzheimer mencapai 80 persen. “Perubahan perilaku dan psikologik tersebut menjadi beban psikososial dan ekonomi yang berat bagi keluarga yang merawat pasien demensia alzheimer,” kata psikiater dari Departemen Psikiatri FKUI/RSCM, dr. Suryo Dharmono, SpKJ (K).

Gangguan perilaku yang sering ditemukan pada pasien demensia alzheimer antara lain berupa perilaku agresif (galak, kasar, menyerang secara fisik); wandering (keluyuran tanpa tujuan, hilang dari rumah, tersesat); gelisah mondar-mandir; senang menimbun barang; sering berteriak tengah malam, tidak mau ditinggal sendirian; implusif, tidak bisa mengontrol perilakunya, kekanak-kanakan; cenderung mengulang pertanyaan; serta kehilangan sopan santun.

Sementara gangguan psikologik yang sering ditemukan pada demensia alzheimer antara lain berupa depresi (menarik diri, menolak makan, menangis, merasa terbuang, putus asa dan keinginan bunuh diri); ansietas/agitasi (penderita selalu ketakutan akan ditinggal oleh keluarganya); halusinasi/delusi (seringkali berupa halusinasi penglihatan); misidentifikasi (salah mengenali orang atau bahkan tidak mengenal bayangan dirinya di cermin; serta waham (kecemburuan yang tidak masuk akal, kecurigaan dan ketakutan yang berlebihan).

Depresi merupakan masalah psikologik yang sering dijumpai pada pasien demensia. Pasien demensia alzheimer dengan depresi memperlihatkan ganguan fungsional yang lebih berat dibanding pasien demensia alzheimer tanpa depresi.

Penanganan Demensia

Tujuan utama penanganan demensia adalah agar penderita dapat mengoptimalkan kemampuan yang masih ada dan memperbaiki kualitas hidupnya. Segala upaya yang dilakukan tak lain untuk menunda progresi kemunduran daya ingat. Penanganan demensia dapat dilakukan baik melalui pendekatan non-farmakologis (psikososial) maupun dengan terapi farmakologis.

Pendekatan non-farmakologis merupakan pendekatan lini pertama pada BPSD ringan sampai sedang. Dalam pendekatan non-farmakologis, diperlukan intervensi lingkungan, perilaku, dan keluarga. Selain itu untuk menunda kemunduran kognitif, penderita demensia harus menjalankan pola perilaku sehat dan stimulasi otak sedini mungkin.

Sementara terapi farmakologis dilakukan setelah pendekatan non-farmakologis tidak memberikan hasil optimal. Umumnya terapi farmakologis diberikan sesuai target gejala yang menjadi sasaran obat, yakni antipsikotik, antidepresan, antiansietas, mood stabilizer, dan hipnotik sedatif. Penanganan demensia menurut panduan dari American Academy of Neurology (AAN) menggunakan obat asetilkolinesterase inhibitor, vitamin, dan antioksidan.

Salah satu aspek yang memegang peranan penting dalam penanganan demensia alzheimer adalah keperawatan. Masalah keperawatan pada pasien demensia alzheimer meliputi perubahan proses berpikir (waham curiga); perilaku kekerasan; risiko mencederai diri, orang lain, dan lingkungan; gangguan komunikasi; defisit perawatan diri; kehilangan motivasi dan minat; isolasi sosial (menarik diri); perubahan sensori perseptual, halusinasi; cemas; serta depresi.

“Merawat penderita demensia alzheimer tidak mudah, tapi bisa dilakukan,” ujar Ibnu Abas, S.Kep selaku Wakil Kepala Pelayanan Medis, Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti. Pemahaman yang cukup tentang demensia alzheimer, kesiapan mental, dan motivasi untuk berbagi merupakan modal utama dalam memberikan asuhan. Kasih sayang dan perhatian merupakan pintu masuk untuk memberikan asuhan yang utuh dan menyeluruh sehingga penderita demensia alzheimer merasa aman dan nyaman.

Tindakan keperawatan pada pasien demensia alzheimer sebaiknya dilakukan dengan membina hubungan saling percaya, menciptakan lingkungan yang terapeutik (tenang, tidak bising, sejuk, aman, warna dinding kamar teduh), reorientasi WTO (waktu, tempat, orang), memberi perhatian cukup termasuk kebutuhan dasar, konsisten, menepati janji, empati dan jujur, melakukan kontak dengan pasien dengan singkat tapi sering.

Kenali 10 Gejala Demensia Alzheimer

  1. Gangguan memori yang mempengaruhi keterampilan pekerjaan.
  2. Kesulitan melakukan tugas yang biasa dilakukan.
  3. Kesulitan berbicara-bahasa.
  4. Gangguan pengenalan waktu dan tempat.
  5. Kesulitan mengambil keputusan yang tepat.
  6. Kesulitan berpikir abstrak.
  7. Salah meletakkan barang.
  8. Perubahan mood (alam perasaan) dan tingkah laku.
  9. Perubahan kepribadian.
  10. Kehilangan inisiatif.


Artikel terkait:


Untuk undangan liputan seminar dan kegiatan lain kirim ke redaksi kami di fax. 021-7397069 atau redaksi@medicastore.