Seminar Scientific medicastore
10-08-2007

Media Workshop PAPDI: Perkembangan Terapi Sel Induk Untuk Penyakit Jantung

terapi stem cell penyakit jantung
ki-ka: dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, KGEH; dr. Chospiadi, SpPD; Prof. Dr. dr. T Santoso, SpPD, KKV; dr. Idrus Alwi, SpPD, KKV.


Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1950 di sumsum tulang belakang manusia, stem cell lantas menjadi primadona di dunia kedokteran sampai saat ini. Para peneliti telah mengetahui bahwa stem cell atau sel induk memiliki kemampuan luar biasa yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit ganas seperti leukimia dan limfoma dan penyakit lainnya.

Terapi sel induk ini merupakan kemajuan gelombang kelima di dunia kedokteran. Tak heran kalau di luar negeri penelitian tentang pemanfaatan sel induk terus dilakukan baik di negara barat seperti Jerman, Amerika, Israel sampai di negara asia seperti di Korea, Jepang.

Perhimpunan Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) bersama panitia Pertemuan Ilmiah Tahunan PAPDI mengadakan media workshop yang bertemakan "perkembangan di bidang penyakit jantung" pada hari Jumat, 3 Agustus 2007 di Hotel Sahid Jaya Jakarta.

“Sel induk memiliki sifat yang berbeda dengan sel lainnya. Sel induk ini pun tidak mempunyai struktur khusus untuk jaringan tubuh tertentu dan tidak punya fungsi khusus pula,” ungkap Prof. Dr. dr. T Santoso, dari UPF Jantung Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia Universitas Indonesia.

Sel induk memiliki kemampuan unik yang tidak dimiliki sel lain yaitu kemampuan untuk berubah menjadi sel jenis lain (transdiferensiasi), kemampuan untuk mengembara menuju ke daerah yang mengalami kerusakan jaringan (homing) dan kemampuan untuk bergabung dengan sel lain di jaringan tersebut (engraftment).

“Tujuan pengobatan dengan sel induk adalah perbaikan (reparasi) dan regenerasi jaringan tubuh yang rusak sehingga tidak harus kuratif (dengan obat),” kata Prof. Santoso.

Sumber sel induk yang digunakan adalah sel induk dewasa yang diambil dari sumsum tulang belakang, pembuluh darah tepi, otot rangka, atau jaringan lemak pasien sendiri. Keuntungan terapi ini adalah tidak adanya kontraindikasi karena yang digunakan adalah sel milik pasien itu sendiri.

Dari beberapa cara memasukkan sel induk ke jantung, penyuntikan langsung ke dalam pembuluh darah koroner merupakan cara yang paling sering dipakai. Cara lainnya seperti menyuntikan sel induk langsung ke otot jantung dengan operasi membuka dada terlalu berisiko.

Serangan (infark) jantung dan gagal jantung merupakan contoh penyakit jantung yang bisa ditangani dengan terapi sel induk ini. Pada serangan jantung akut, penting untuk membawa pasien segera ke rumah sakit. Jika dalam waktu 90 menit sampai 120 menit pasien langsung diobati maka hasil pengobatan akan sempurna karena otot jantung belum mati.

Prof. Santoso mengingatkan, “terapi sel induk merupakan terapi tambahan disamping terapi penyakt jantung yang standar.” Hasil terapi cukup baik dengan efek samping minimal, sedangkan untuk hasil yang baik tergantung dari kondisi jantung sebelumnya.

dr. Cosphiadi Irawan, Sp.PD mengatakan bahwa efek samping kemungkinan berasal dari prosedur pemberian sel induk atau skill dari dokter yang melakukan penempatan sel induk ke bagian yang tepat. Mungkin juga dari persiapan seperti kemungkinan infeksi.

Dr. Idrus Alwi, Sp.PD, KKV yang berpraktek di RS MMC, menjelaskan bahwa terapi sel induk merupakan harapan baru dalam terapi penyakit jantung karena dapat memperbaiki fungsi pompa jantung (miogenesis) sehingga harapan hidup menjadi lebih baik dan harga pengobatan bisa ditekan.

Kini, Indonesia pun tidak mau ketinggalan. “RSCM dan RS Medistra mengembangkan Centre Terapi Sel Induk untuk penyakit jantung. Bahkan dalam beberapa bulan ke depan terapi stem cell akan dilaksanakan di Indonesia,” kata dr. Cosphiadi Irawan, Sp.PD yang berpraktek di RS Omni Medical Center. “Saat ini sudah banyak pasien yang mengantri,” tambahnya.

Sebenarnya tujuan penelitian ini untuk menolong pasien, bukan sekadar menunjukkan bahwa kedokteran di Indonesia sudah maju. “Penelitian sel induk di Indonesia bekerja sama dengan Korea, Amerika dan Australia. Bahkan, BPPT sedang mengembangkan kultur sel induk di Serpong,” ungkap dr. Chospiadi.

Untuk undangan liputan seminar dan kegiatan lain kirim ke redaksi kami di fax. 021-7397069 atau redaksi@medicastore.