Seminar Bekti-medicastore.com
09-06-2010

Yoghurt untuk Mengatasi Konstipasi

Konstipasi atau sembelit merupakan gangguan pencernaan yang sering dialami oleh sebagian besar orang dan dapat menghambat aktivitas sehari-hari yang dapat juga mempengaruhi kualitas hidup serta dapat bertambah parah di kemudian hari. Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) Pada tahun 2006 yang lalu telah menyusun suatu Konsensus Nasional Penatalaksanaan Konstipasi di Indonesia yang diharapkan menjadi acuan bagi para praktisi medis di seluruh Indonesia dalam penatalaksanaan konstipasi.

Kemudian dengan berkembangnya ilmu pengetahuan kedokteran saat ini, telah ditemukan juga berbagai data-data baru baik dalam upaya untuk menegakkan diagnosis maupun pengobatan konstipasi/sembelit. Khusus mengenai pengobatan konstipasi, saat ini terdapat bukti yang sangat kuat tentang manfaat produk yoghurt yang mengandung probiotik khususnya Bifidobacterium animalis lactis DN-173 010, dalam pengobatan konstipasi. Bahkan Organisasi Ahli Saluran Cerna Sedunia (World Gastroenterology Organization/WGO) sejak tahun 2009 telah merekomendasikan konsumsi yoghurt yang mengandung Bifidobacterium animalis lactis DN-173 010 ini bagi pasien yang menderita konstipasi. Oleh sebab itu, Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia yang merupakan wadah para dokter/ para ahli yang berkecimpung di bidang penyakit-penyakit saluran cerna dari seluruh Indonesia mengadakan pertemuan di Jakarta dari tanggal 4-6 Juni 2010 kemarin untuk merevisi Konsensus Nasional Penatalaksanaan Konstipasi di Indonesia yang telah disusun pada tahun 2006 yang lalu.

C:\Documents and Settings\Bekti\press kit kirim\foto konsensus\DSC06306.JPG
Ki-ka : dr.H.Chudahman Manan, SpPD-KGEH ; dr.Dadang Makmun, SpPD KGEH ; dr.Ari Fahrial S, SpPD-KGEH, MMB

“Konstipasi merupakan keluhan yang sering ditemui dalam praktek sehari-hari, dapat mengenai kelompok usia muda maupun orang tua. Saat ini angka kejadian konstipasi terus meningkat, namun di lain pihak pengetahuan serta kewaspadaan para praktisi media baik dokter umum dirasakan belum merata, sehingga tidak jarang pasien datang dengan komplikasi yang lebih berat,” dikatakan dr. H. Chudahman Manan, SpPD-KGEH, Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI).

“Adapun yang dimaksud dengan keadaan konstipasi itu sendiri adalah gejala defekasi/BAB yang tidak memuaskan yang ditandai dengan frekuensi BAB yang kurang dari 3 kali dalam seminggu atau kesulitan dalam mengeluarkan feses akibat feses yang keras,” jelas dr. Dadang, SpPD KGEH.

dr. Achmad Fauzi menambahkan, “Berdasarkan gejala yang seringkali diutarakan pasien, konstipasi digambarkan sebagai konsistensi feses yang keras, adanya mengedan yang berlebihan pada saat buang air besar, buang air besar yang dirasa tidak tuntas serta lamanya waktu yang diperlukan untuk buang air besar di toilet ataupun buang air besar yang tidak lancar.”

Menurut DR. dr. Murdani Abdullah, SpPD-KGEH, dari 2.397 pasien di RSCM Jakarta yang yang menjalani pemeriksaan kolonoskopi dari tahun 1998-2005, 9% di antaranya adalah pasien dengan konstipasi. Melihat data di atas, secara kasar dapat diduga bahwa jumlah penderita konstipasi di Indonesia cukup besar. Konstipasi bukan merupakan masalah kesehatan yang remeh, karena berdasarkan penelitian tersebut di atas, dari semua pasien dengan konstipasi 36,4 % menderita wasir/hemoroid dan kurang lebih 8% di antaranya menderita tumor ganas/kanker usus besar.

yogurtSementara itu, dr. Achmad Fauzi, SpPD-KGEH, mengatakan, “Terdapat beberapa faktor risiko terjadinya konstipasi, yaitu konstipasi lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki, asupan makanan dan air yang kurang, diet kurang serat serta obat-obatan yang dapat menimbulkan sembelit, penyalahgunaan obat-obat pencahar, pasien-pasien dalam keadaan sakit berat dan lanjut serta berbagai keadaan penyakit yang dapat mendasari terjadinya keadaan konstipasi.”

"Dalam menyambut Hari Kesehatan Pencernaan Sedunia / World Digestive Day 2010, PB PGI mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk membiasakan hidup sehat yang salah satunya adalah dengan menjaga kesehatan saluran pencernaan. Salah satu faktor yg berperan dalam kesehatan pencernaan adalah keberadaan bakteri baik atau probiotik di dalam usus yang selain dapat meningkatkan imunitas juga membantu penyerapan makanan dan mencegah serta mengobati gangguan konstipasi" ungkap dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB. Salah satu jenis yoghurt yang beredar saat ini yang juga mengandung bakteri Bifidobacterium animalis lactis DN-173 010  adalah yoghurt activia.