Seminar Bekti-medicastore.com
20-04-2011

Defisiensi Besi dapat Mengganggu kecerdasan Anak

Persoalan mengenai gizi terutama pada anak masih menjadi kekhawatiran di Indonesia. Menurut riset kesehatan dasar (Riskesdas ) tahun 2010, prevalensi gizi buruk di Indonesia adalah 4,9 % sedangkan prevalensi gizi kurangnya mencapai 13 %. Permasalahan gizi yang terjadi di Indonesia adalah : kurangnya energi & protein (kurus & pendek), kurang vitamin A, kurang yodium, anemia gizi besi & kelebihan gizi (overweight & obesitas).

Anemia sendiri adalah berkurangnya kadar hemoglobin di tubuh dibandingkan dengan nilai normalnya sesuai kelompok usia. Anemia yang disebabkan karena kekurangan besi atau anemia defisiensi besi (ADB) merupakan jenis anemia yang paling banyak terjadi di Indonesia. Anemia defisiensi besi ini dapat menyerang anak di setiap kelompok usia, meskipun kelompok usia yang paling tinggi adalah balita (0-5 tahun). Prevalensi anemia defisiensi besi pada bayi & balita menurut survey kesehatan rumah tangga (SKRT) yang dilakukan pada tahun 2001 adalah 47 %.

Sedangkan prevalensi anemia defisiensi besi yang terjadi pada ibu hamil, masih menurut survey yang sama adalah sebesar 40,1 %. Anemia yang terjadi pada ibu hamil ini juga menjadi kekhawatiran khusus karena ibu hamil yang mengalami anemia akan beresiko untuk melahirkan anak yang juga mengalami anemia.

Banyak faktor yang dapat membuat anak mengalami kekurangan besi, diantaranya adalah asupan nutrisi yang tidak seimbang, cepatnya perumbuhan saat bayi & remaja, mengalami cacingan dll. Besi dibutuhkan oleh tubuh untuk pembentukan hemoglobin. Hemoglobin sendiri merupakan unsur penting didalam sel darah merah yang berfungsi untuk mengikat oksigen. Jika kadar hemoglobin berkurang, maka oksigen yang dihantarkan oleh sel darah merah ke seluruh tubuh juga akan berkurang.

Menurut dr. Soedjatmiko, Sp.A (K), MSi, “anak yang kekurangan besi pada masa bayi memiliki resiko gangguan pertumbuhan & perkembangan jangka panjang yang lebih serius, seperti gangguan kognitif (kecerdasan) & perilaku anak. Hal ini karena kekurangan besi sejak anak dalam kandungan sampai berumur 2 tahun akan mengganggu perkembangan cabang-cabang & sambungan (sinaps) antara sel-sel otak. Selain itu, kekurangan besi sejak bayi juga akan menghambat pembentukan zat neurotransmiter yang penting untuk pengendalian emosi, pemusatan perhatian & perilaku anak. Kekurangan besi juga dapat mengganggu pembentukan selubung syaraf (mielin), yang penting dalam kecepatan berpikir anak”.

Pengaruh Nutrisi, Kasih Sayang dan Stimulasi pada Jumlah sel dan Percabangan Sel-sel Otak

Akibatnya adalah anak akan mengalami gangguan pengendalian emosi, perubahan temperamen, sulit memusatkan perhatian, lambat dalam menerima & memproses informasi, mengalami gangguan daya ingat & kelambatan dalam proses pembelajaran yang berakibat pada rendahnya kecerdasan & gangguan perilaku, demikian penekanan dari dr. Soedjatmiko.

Untuk mencegah anemia defisiensi besi yang dapat menyebabkan hal-hal tersebut diatas, sudah dapat dimulai sejak bayi dilahirkan. Misalnya melalui pemberian ASI secara eksklusif pada bayi (untuk ibunya dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang cukup mengandung besi, sehingga ASI yang dihasilkan juga cukup mengandung besi), kemudian diikuti dengan pemberian makanan yang bergizi, pemberian suplementasi besi & stimulasi bermain dengan penuh kasih sayang. Makanan yang diketahui mengandung besi terutama berasal dari protein hewani seperti daging merah, hati & ikan. Selain itu ada juga beberapa jenis sayur serta kacang-kacangan yang juga mengandung besi.

Ayo, selamatkan generasi muda Indonesia dari ancaman anemia karena defisiensi besi !